Rupiah Tertekan Dolar AS Tembus Rp18.050

Moch Divan

Rupiah Tertekan Dolar AS Tembus Rp18.050

lintaswarta.co.id – Mata uang Garuda kembali menunjukkan performa yang kurang menggembirakan pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. Nilai tukar rupiah terpantau mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin pagi (26/10/2026), yang membuat posisi mata uang nasional berada di zona merah.

Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, rupiah dibuka pada level Rp18.050 per dolar AS. Jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada Jumat pekan lalu yang berada di posisi Rp18.040 per dolar AS, maka terjadi penurunan sebesar 0,06 persen atau setara dengan 10 poin. Kondisi ini menandakan bahwa tekanan terhadap nilai tukar domestik masih cukup terasa di awal pekan.

Rupiah Tertekan Dolar AS Tembus Rp18.050
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi barometer kekuatan mata uang Amerika terhadap enam mata uang utama dunia lainnya, justru terpantau mengalami sedikit koreksi. Pada pukul 09.00 WIB, indeks dolar AS turun tipis 0,17 persen ke posisi 101,636. Meski dolar AS secara global sedikit melemah, rupiah tetap kesulitan untuk menguat dan justru bergerak searah dengan tren pelemahan.

COLLABMEDIANET

Menanggapi fluktuasi ini, pihak Bank Indonesia (BI) memberikan pernyataan terkait stabilitas nilai tukar. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa tekanan yang dialami rupiah saat ini masih dalam batas yang dapat dikelola oleh otoritas moneter. Hal ini disampaikan menyusul adanya sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang sempat memicu volatilitas pasar.

Erwin menjelaskan bahwa pasar saat ini sedang dalam fase penyesuaian atau mencerna dampak dari sentimen MSCI tersebut. Dengan demikian, diharapkan tekanan terhadap rupiah dapat mereda secara bertahap seiring dengan stabilnya persepsi pelaku pasar.

Selain faktor domestik, dinamika pasar energi global juga turut memberikan pengaruh signifikan. Harga minyak mentah dunia, khususnya jenis Brent, dilaporkan mengalami koreksi sebesar 1,34 persen menjadi US$115,16 per barel pada Senin pagi. Penurunan ini dipicu oleh adanya harapan akan upaya diplomatik untuk meredakan konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Namun, optimisme pasar terhadap penurunan harga energi tetap dibayangi oleh risiko keamanan. Laporan mengenai serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas energi di Arab Saudi selama akhir pekan memberikan sinyal bahwa ketidakpastian pasokan energi global masih sangat tinggi. Bagi Indonesia, situasi ini menjadi tantangan tersendiri. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, lonjakan harga energi berisiko meningkatkan kebutuhan akan dolar AS untuk membiayai impor, yang pada akhirnya dapat menambah beban terhadap rupiah.

Menutup rangkaian sentimen pekan ini, para pelaku pasar kini tengah bersiap menghadapi agenda ekonomi krusial dari Amerika Serikat. Keputusan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) serta rilis data inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS akan menjadi kompas utama bagi arah aliran modal global. Data-data tersebut diprediksi akan sangat menentukan apakah dolar AS akan kembali menguat atau justru memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk kembali bernapas lega.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar