Lintaswarta.co.id, Jakarta – Hadis yang kerap menjadi inspirasi, "tuntutlah ilmu sampai ke negeri China," telah lama menjadi pendorong umat Islam untuk mengejar pendidikan setinggi-tingginya. Namun, seberapa megahkah peradaban Tiongkok pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW hingga pepatah tersebut muncul? Jawabannya terletak pada Dinasti Tang, sebuah era keemasan yang beriringan dengan periode kenabian, menunjukkan kemajuan luar biasa yang mungkin melampaui bayangan banyak orang.
Meskipun para ulama hadis mengklasifikasikan riwayat ini sebagai dhaif (lemah) karena sanadnya yang kurang kuat, substansi pesannya tetap selaras dengan ajaran Islam yang mengedepankan pentingnya menuntut ilmu tanpa batas. Penyebutan "China" kala itu bukanlah merujuk pada tujuan geografis literal, melainkan simbol jarak ekstrem dan tantangan besar yang harus ditempuh demi ilmu. Pada era tersebut, Tiongkok memang dikenal sebagai peradaban maju dengan segudang keunggulan.
Dinasti Tang: Kekuatan yang Beriringan dengan Era Kenabian

Related Post
Jika menilik lini masa sejarah, Dinasti Tang adalah penguasa Tiongkok yang berkuasa selama masa hidup Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW hidup sekitar tahun 570-632 M, sementara Dinasti Tang memerintah sejak 618 M hingga 907 M. Ini berarti awal berdirinya Dinasti Tang bertepatan dengan periode kerasulan Nabi, khususnya pada masa Kaisar Tang pertama dan para penerus awalnya. Pada masa inilah, benih-benih hubungan antara dunia Islam dan Tiongkok mulai terjalin, terutama melalui jalur perdagangan yang ramai.
Periode kekuasaan Dinasti Tang secara universal diakui sebagai salah satu puncak kejayaan peradaban Tiongkok. Era ini tidak hanya menandai keemasan budaya kosmopolitan, tetapi juga periode stabilitas politik, ekspansi ekonomi, dan kemajuan teknologi yang terintegrasi secara optimal. Di bawah tata kelola pemerintahan yang terstruktur, Dinasti Tang berhasil membangun fondasi birokrasi dan jaringan perdagangan makro yang memengaruhi seluruh kawasan Asia secara luas.
Konsolidasi Politik dan Ekspansi Geopolitik Tanpa Batas
Didirikan pada tahun 618 M oleh Li Yuan, yang kemudian bergelar Kaisar Gaozu, setelah keruntuhan Dinasti Sui yang dilanda krisis internal, stabilitas kekaisaran ini diperkuat secara signifikan oleh putranya, Li Shimin (Kaisar Taizong). Melalui strategi militer dan diplomasi yang cerdas, Kaisar Taizong bersama penerusnya, Kaisar Xuanzong, berhasil menciptakan periode stabilitas domestik yang panjang.
Dari sudut pandang geopolitik, Dinasti Tang melakukan ekspansi teritorial yang masif. Kendali politik dan militer kekaisaran diperluas hingga membentang dari Semenanjung Korea di wilayah timur hingga ke pedalaman Asia Tengah di barat. Perluasan ini bukan sekadar pamer kekuatan, melainkan langkah strategis untuk mengamankan rute perdagangan internasional dari ancaman eksternal, sekaligus menjamin kelancaran arus logistik dan modal.
Reformasi Birokrasi dan Kepastian Hukum yang Progresif
Salah satu pilar utama yang menopang pertumbuhan ekonomi Dinasti Tang adalah reformasi institusional. Pemerintah pusat menyempurnakan sistem ujian pegawai negeri sipil. Kebijakan ini merupakan langkah progresif untuk memastikan bahwa jajaran birokrat dan pembuat kebijakan dipilih berdasarkan kualifikasi akademik yang ketat, bukan karena kedekatan atau status keturunan.
Di sektor penegakan hukum, kekaisaran merumuskan Kode Tang (Tang Code), sebuah kerangka hukum komprehensif yang mengatur tata tertib negara secara rinci. Keberadaan sistem hukum yang jelas ini memberikan kepastian bagi para pelaku usaha dan masyarakat luas, bahkan kemudian diadopsi sebagai model rujukan utama bagi sistem yurisprudensi di berbagai negara Asia Timur lainnya.
Jalur Sutra: Arteri Ekonomi Global dan Metropolitan Chang’an
Puncak kemakmuran ekonomi Dinasti Tang sangat ditopang oleh optimalisasi Jalur Sutra. Rute perdagangan darat ini berkembang pesat, memfasilitasi integrasi ekonomi lintas benua dengan aktivitas ekspor-impor yang masif, menghubungkan pasar domestik Tiongkok dengan berbagai entitas ekonomi global.
Ibu kota kekaisaran, Chang’an (kini Xi’an), menjadi pusat dari aktivitas ekonomi internasional ini. Pada masa jayanya, Chang’an berkembang menjadi kota metropolitan terbesar di dunia dengan populasi dan perputaran uang yang sangat besar. Kota ini berfungsi sebagai pusat finansial komersial yang mempertemukan para pedagang, utusan diplomatik, dan pelaku ekonomi dari Asia Tengah, Persia, hingga Arabia.
Estetika dan Inovasi: Dari Kosmetik Mewah hingga Cetak Blok Kayu
Kemakmuran ekonomi makro dan tingginya aktivitas perdagangan lintas batas juga memicu perkembangan sektor konsumsi barang mewah, salah satunya tercermin dalam evolusi estetika dan tata rias (makeup) wanita era Tang. Arus logistik di Jalur Sutra memfasilitasi masuknya pigmen dan bahan kosmetik eksotis dari luar negeri ke pasar domestik Tiongkok.
Tata rias wanita pada periode ini dikenal sangat elaboratif, berani, dan menjadi simbol status sosial yang kuat. Proses riasan umumnya melibatkan aplikasi bedak putih berbahan dasar timbal secara tebal pada wajah, dipadukan dengan perona pipi (rouge) bernuansa merah pekat. Estetika era Tang juga sangat menonjolkan seni melukis alis dalam berbagai bentuk—seperti bentuk daun willow atau sayap ngengat—serta riasan bibir yang dibentuk kecil menyerupai buah ceri. Lebih lanjut, tren riasan dilengkapi dengan ornamen dahi berupa motif bunga atau elemen emas yang dikenal sebagai Huadian, serta titik lesung pipit buatan (Mianyan). Berkembangnya industri kosmetik pada masa itu tidak hanya menunjukkan tingkat literasi estetika yang tinggi, tetapi juga merepresentasikan tingginya daya beli masyarakat perkotaan.
Inovasi teknologi juga berkembang pesat, salah satunya adalah penemuan cetak blok kayu (woodblock printing), yang merevolusi sistem distribusi informasi. Di bidang sastra, masa ini melahirkan pujangga besar seperti Li Bai dan Du Fu.
Dinasti Tang juga dikenal dengan iklim sosial yang inklusif dan tingkat toleransi beragama yang tinggi. Agama Buddha berkembang pesat, berdampingan dengan izin masuknya kepercayaan asing seperti Islam, Kristen Nestorian, dan Zoroastrianisme. Iklim terbuka ini memberikan kepastian keamanan bagi ekspatriat dan pedagang asing yang berinvestasi di ibu kota. Bahkan, periode ini juga mencatat anomali sejarah dengan naiknya Wu Zetian, satu-satunya wanita dalam sejarah Tiongkok yang secara resmi mengklaim gelar Kaisar.
Krisis Struktural dan Keruntuhan Kekaisaran
Namun, meskipun memiliki fundamental ekonomi yang solid, kejayaan Dinasti Tang akhirnya runtuh akibat krisis internal yang parah, diawali oleh Pemberontakan An Lushan (755-763 M). Konflik berskala masif ini tidak hanya mengakibatkan kerugian jiwa dan harta yang luar biasa besar, tetapi juga melumpuhkan infrastruktur ekonomi, sistem perpajakan, dan rantai pasok di wilayah kekaisaran.
Pasca-pemberontakan tersebut, otoritas fiskal dan politik pemerintah pusat mengalami pelemahan permanen. Kekuasaan secara bertahap terdesentralisasi ke tangan para gubernur militer regional (jiedushi), yang bertindak selayaknya entitas penguasa independen. Kondisi ekonomi makro yang terus memburuk memicu ketidakpuasan sosial, berujung pada rentetan pemberontakan susulan seperti Pemberontakan Huang Chao. Akumulasi dari krisis kelembagaan dan defisit ekonomi ini pada akhirnya meruntuhkan Dinasti Tang secara resmi pada tahun 907 M.
Dari uraian di atas, jelaslah bahwa China pada era Nabi Muhammad SAW, di bawah panji Dinasti Tang, memang merupakan peradaban yang sangat maju dan berpengaruh. Kehebatannya bukan sekadar mitos, melainkan fakta sejarah yang kaya akan inovasi, kemakmuran, dan toleransi, menjadikannya simbol yang tepat untuk sebuah perjalanan panjang demi mencari ilmu.







Tinggalkan komentar