Terungkap! AS Bakar Rp135.000 T untuk Perang, Apa Saja?

Harimurti

Terungkap! AS Bakar Rp135.000 T untuk Perang, Apa Saja?

Lintaswarta.co.id, Jakarta – Di balik setiap peluncuran rudal, pengerahan kapal induk, dan operasi militer global, tersembunyi tagihan finansial yang nilainya sungguh mencengangkan. Amerika Serikat, sebagai kekuatan militer adidaya, telah mengucurkan anggaran triliunan dolar untuk membiayai perang dan menjaga dominasinya, sebuah beban yang tidak hanya terasa saat konflik berlangsung, namun juga membebani kas negara bertahun-tahun setelahnya.

Fakta mengejutkan ini terungkap melalui penelitian mendalam yang dilakukan oleh Costs of War Project. Proyek yang didirikan pada tahun 2010 dan berpusat di Watson Institute for International and Public Affairs, Brown University, ini secara konsisten mempublikasikan studi mengenai dampak berkelanjutan dari keterlibatan militer AS di seluruh dunia. Dengan kontribusi lebih dari 70 akademisi, pakar, dan aktivis, proyek ini menjadi rujukan utama dalam mengukur ongkos riil dari setiap keputusan militer Washington.

Terungkap! AS Bakar Rp135.000 T untuk Perang, Apa Saja?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Warisan Mahal Perang Pasca-9/11: Rp135.200 Triliun Ludes!

COLLABMEDIANET

Dalam dua dekade terakhir, pasca-serangan 11 September 2001 (9/11), Amerika Serikat telah menghabiskan dana yang luar biasa besar. Temuan Costs of War Project menunjukkan bahwa total biaya perang-perang yang dipicu oleh peristiwa 9/11, termasuk konflik di Afghanistan dan Irak, serta operasi militer di Pakistan, Suriah, dan sejumlah wilayah lain, telah meroket hingga sekitar US$8 triliun. Angka ini setara dengan Rp135.200 triliun, asumsi kurs US$1 = Rp16.900.

Operasi militer AS dalam upaya kontra-terorisme ternyata masih berlangsung luas di berbagai penjuru dunia. Stephanie Savell, Antropolog sekaligus Direktur Costs of War Project, mengungkapkan bahwa antara tahun 2021 hingga 2023, pemerintah AS melancarkan operasi kontra-terorisme di 78 negara. Ini mencakup pertempuran darat di setidaknya sembilan negara dan serangan udara di minimal empat negara selama tiga tahun pertama kepemimpinan Presiden Joe Biden. Meskipun jumlah negara yang menjadi lokasi operasi sedikit menurun dibanding periode 2018-2020 (85 negara), skala operasinya tetap masif.

Beban Tak Berujung: Utang dan Perawatan Veteran

Ironisnya, besarnya angka tersebut bahkan belum memasukkan biaya bunga utang di masa depan. Sebagian besar pembiayaan perang dilakukan melalui utang, yang berarti kewajiban pemerintah akan terus membengkak dalam jangka panjang. Lebih jauh lagi, biaya perang tidak serta merta berakhir ketika pertempuran usai. Brown University memperkirakan bahwa ongkos perawatan veteran perang pasca-9/11 akan mencapai US$2,2 triliun hingga US$2,5 triliun pada tahun 2050, sebuah beban yang sebagian besarnya masih belum terbayarkan hingga kini.

Pengeluaran militer AS juga tidak hanya melonjak saat perang terbuka pecah. Dalam laporan yang sama, terungkap bahwa AS menghabiskan sekitar US$260 miliar per tahun sejak 2012 untuk menghadapi China secara militer. Ini merupakan bagian dari strategi "pivot to Asia" yang dimulai pada era Presiden Barack Obama, menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik dan perlombaan persenjataan juga memakan anggaran yang sangat besar, bahkan tanpa adanya konflik langsung.

Konflik Baru, Tagihan Baru: Israel dan Yaman

Beban finansial baru kembali muncul pasca-serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Menurut Costs of War Project, dalam dua tahun setelah insiden tersebut, pemerintah AS telah menggelontorkan US$21,7 miliar untuk bantuan militer ke Israel. Selain itu, AS juga menghabiskan tambahan sekitar US$9,65 miliar hingga US$12,07 miliar untuk operasi militer di Yaman dan kawasan sekitarnya. Jika digabungkan, total pengeluaran AS untuk konflik-konflik pasca-7 Oktober 2023 mencapai sekitar US$31,35 miliar hingga US$33,77 miliar, dan angka ini diprediksi masih akan terus bertambah.

Bahkan, sebuah simulasi konflik terbaru antara AS dan Iran pada tahun 2026 menunjukkan betapa cepatnya biaya perang dapat membengkak. Dalam pengarahan tertutup kepada anggota parlemen AS, Pentagon menyebut biaya perang melawan Iran telah menembus lebih dari US$11,3 miliar hanya dalam enam hari pertama. Angka ini diyakini belum menggambarkan seluruh biaya riil, karena estimasi awal tersebut lebih banyak mencakup pengeluaran untuk amunisi, sementara komponen lain seperti pengerahan pasukan, biaya medis, logistik, hingga penggantian pesawat militer yang hilang, kemungkinan belum sepenuhnya dihitung.

Mahalnya Amunisi Presisi: Bom Jutaan Dolar per Unit

Tingginya biaya operasi militer, terutama dalam konflik seperti AS-Iran pada 2026, tidak lepas dari penggunaan amunisi presisi yang harganya sangat mahal. Pada awal serangan, AS dilaporkan menggunakan senjata canggih seperti AGM-154 Joint Standoff Weapon, sebuah bom luncur yang harganya berkisar antara US$578.000 hingga US$836.000 per unit.

Seiring berjalannya operasi, Pentagon disebut mulai beralih ke amunisi yang lebih terjangkau, seperti Joint Direct Attack Munition (JDAM). Untuk jenis ini, hulu ledak terkecilnya berharga sekitar US$1.000, sedangkan kit pemandunya sekitar US$38.000. Perubahan ini mengindikasikan bahwa dalam perang modern, biaya militer tidak hanya dipengaruhi oleh intensitas serangan, tetapi juga oleh jenis dan kuantitas senjata yang digunakan. Meskipun ada upaya menekan biaya, penggunaan senjata canggih dalam tempo cepat tetap berisiko menguras persediaan dan mendorong kebutuhan anggaran tambahan untuk mengisi kembali stok amunisi dan perlengkapan militer AS.

Dengan demikian, gambaran biaya perang Amerika Serikat menunjukkan sebuah realitas yang jauh lebih kompleks dan mahal daripada sekadar peluncuran rudal atau pengerahan pasukan. Ini adalah beban finansial multi-dekade yang terus membentuk kebijakan luar negeri dan ekonomi negara adidaya tersebut, dengan implikasi global yang tak terhindarkan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar