Terkuak! Emas Loyo Saat Konflik Membara, Ini Alasannya!

Harimurti

Terkuak! Emas Loyo Saat Konflik Membara, Ini Alasannya!

Lintaswarta.co.id melaporkan, harga emas global menunjukkan pergerakan yang mengejutkan, cenderung stabil bahkan di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Padahal, ketegangan di Timur Tengah telah memuncak dengan serangan AS-Israel ke Teheran yang menewaskan Ayatollah Khamenei pada 28 Februari, disusul balasan Iran merudal pangkalan militer AS di Arab dan mengancam penutupan Selat Hormuz.

Fenomena ini menarik perhatian, mengingat emas secara tradisional dipandang sebagai aset "safe haven" yang justru menguat saat ketidakpastian geopolitik melanda. Sejarah mencatat, investor cenderung beralih ke logam mulia ini untuk melindungi nilai aset mereka di masa krisis.

Terkuak! Emas Loyo Saat Konflik Membara, Ini Alasannya!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Memang, setelah serangan 28 Februari, harga emas sempat melonjak dari US$5.296 menjadi US$5.423 per troy ounce. Namun, kenaikan tersebut tak bertahan lama. Gelombang aksi jual masif segera menyusul, menjatuhkan harga lebih dari 6% hingga mencapai US$5.085 pada 3 Maret. Sejak itu, harga cenderung bergerak datar di kisaran US$5.050 hingga US$5.200, dengan penutupan terakhir di sekitar US$5.175 per troy ounce.

COLLABMEDIANET

Ross Norman, CEO Metals Daily, sebuah situs analisis logam mulia, menjelaskan beberapa faktor di balik stagnasi ini. Menurutnya, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi pemicu utama. Ia juga menyoroti potensi kenaikan harga minyak akibat gangguan jalur energi vital seperti Selat Hormuz, yang dapat memicu inflasi dan memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi. Suku bunga tinggi, pada gilirannya, membuat aset berbunga seperti obligasi pemerintah lebih menarik dibanding emas yang tidak memberikan imbal hasil.

"Pergerakan harga emas dan perak saat ini terlihat kurang bergairah, tetapi mungkin itu wajar setelah lonjakan besar yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir," ujar Norman pada Senin (16/3/2026). Ia menambahkan bahwa sebagian investor institusional kini lebih berhati-hati memegang emas akibat volatilitas harga yang cukup tinggi belakangan ini.

Sementara itu, Amer Halawi, Kepala Riset di perusahaan investasi Al Ramz, menawarkan perspektif lain. Ia berpendapat bahwa konflik geopolitik sering kali diawali dengan aksi jual besar-besaran. Dalam kondisi tekanan likuiditas pasar, investor cenderung menjual berbagai aset terlebih dahulu, termasuk emas, sebelum kemudian kembali membeli aset yang dianggap aman setelah situasi lebih jelas.

"Jika terjadi krisis likuiditas, hampir semua aset akan dijual sampai para pelaku pasar bisa memahami situasinya dan kembali memfokuskan investasi pada aset yang tepat," jelas Halawi dalam program "Access Middle East". Ia menegaskan bahwa fenomena ini merupakan respons "tradisional" yang sering muncul pada awal krisis, di mana bahkan emas pun bisa ikut dijual sebelum akhirnya kembali menguat.

Meskipun pergerakan harga emas tampak datar dalam jangka pendek, optimisme terhadap prospek jangka panjang logam mulia ini tetap kuat di kalangan bank investasi global. JPMorgan Chase, misalnya, memproyeksikan harga emas bisa mencapai US$6.300 per troy ounce pada akhir 2026. Senada, Deutsche Bank mempertahankan proyeksi US$6.000 per troy ounce pada akhir tahun ini. Para analis sepakat bahwa ketidakpastian geopolitik global, inflasi yang persisten, dan ketegangan yang berkelanjutan di Timur Tengah akan terus menjadi pendorong utama permintaan emas sebagai aset lindung nilai di masa mendatang.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar