Lintaswarta.co.id – Sejarah mencatat sebuah peristiwa kelam di jantung kekuasaan Arab Saudi pada 25 Maret 1975. Kala itu, Raja Faisal bin Abdul Aziz Al Saud, pemimpin yang disegani dan berpengaruh, tewas ditembak di Istana Raja, Riyadh. Pelakunya tak lain adalah keponakannya sendiri, Pangeran Faisal bin Musaid. Insiden tragis ini dengan cepat memicu dugaan kuat adanya infiltrasi intelijen asing, baik dari Israel maupun Amerika Serikat, yang merasuk ke dalam lingkaran dalam kerajaan.
Insiden pembunuhan yang mengguncang dunia itu terjadi sekitar pukul 10.32 waktu setempat. Pangeran Musaid melepaskan tembakan ke arah pamannya saat Raja Faisal tengah menyambut delegasi dari Kuwait. Tembakan fatal tersebut mengenai kepala sang raja, membuatnya langsung ambruk bersimbah darah. Meskipun segera dilarikan ke rumah sakit, nyawa Raja Faisal tidak dapat diselamatkan, meninggalkan duka mendalam bagi rakyatnya.
Pasca-pembunuhan, sempat beredar kabar bahwa Pangeran Faisal bin Musaid memiliki gangguan mental. Namun, pemerintah Arab Saudi dengan tegas membantah klaim tersebut, menyatakan bahwa sang pangeran sehat secara mental, meski diakui memiliki catatan perilaku yang kurang baik. Menurut autobiografi "King Faisal: Personality, Faith and Times" (2016), Pangeran Musaid dikenal sebagai sosok yang bermasalah. Ia pernah tinggal di Amerika Serikat, di mana ia terlibat dalam perdagangan obat terlarang, penyalahgunaan narkotika dan alkohol, serta sering terlibat perkelahian. Ironisnya, setiap kali ia tersandung masalah hukum, Kerajaan Saudi selalu turun tangan melindunginya.

Related Post
Atas perbuatannya, Pangeran Musaid dijatuhi hukuman pancung pada 8 Juni 1975. Namun, eksekusi tersebut tidak serta-merta mengungkap motif di balik pembunuhan. Pemerintah memilih untuk merahasiakannya, sehingga memicu berbagai teori konspirasi yang beredar luas, mencoba mengisi kekosongan informasi yang sengaja disembunyikan.
Salah satu teori konspirasi yang paling santer dan populer adalah dugaan keterlibatan Amerika Serikat. Dokumen rahasia yang dirilis oleh Badan Intelijen Amerika (CIA) pada tahun 2007 bahkan mengidentifikasi hipotesis ini sebagai salah satu kemungkinan kuat. CIA sendiri menyebutkan bahwa Pangeran Musaid diduga dihasut oleh AS. "Beberapa mengajukan hipotesis bahwa raja dibunuh atas hasutan Amerika yang tidak puas dengan kebijakannya dalam masalah penyelesaian Timur Dekat dan sikap dingin terhadap Amerika Serikat," demikian bunyi laporan CIA, mengindikasikan adanya motif politik tingkat tinggi.
Investigasi yang dilakukan oleh Daily News pada masa itu juga mengarah pada kesimpulan serupa, mengaitkan kematian Raja Faisal dengan konspirasi AS dan rumor keterlibatan intelijen Israel. Selama masa pemerintahannya, Raja Faisal dikenal sebagai figur yang vokal menentang Israel dan Amerika Serikat, terutama terkait sikap mereka terhadap Palestina. Ia berjuang keras demi kemerdekaan penuh Palestina. Puncaknya adalah ketika Arab Saudi bersama negara-negara Arab pengekspor minyak lainnya memberlakukan embargo minyak terhadap Israel dan negara-negara Barat pendukungnya pada tahun 1973. Embargo ini melumpuhkan ekonomi AS dan negara-negara Barat, menyebabkan krisis energi yang parah selama berbulan-bulan.
Menurut Rachel Bronson dalam bukunya "Thicker Than Oil: America’s Uneasy Partnership with Saudi Arabia" (2006), kondisi ini semakin menguatkan dugaan bahwa Raja Faisal menjadi target pembunuhan. Terlebih, muncul fakta bahwa kekasih Pangeran Musaid, Christine Surma, diduga kuat merupakan aset Mossad, badan intelijen Israel. Selain itu, ada pula dugaan lain yang menyebut pembunuhan ini sebagai aksi balas dendam atas kematian saudara laki-laki Musaid pada tahun 1966. Namun, semua hipotesis ini sulit dibuktikan secara definitif karena pemerintah tetap bungkam mengenai motif sebenarnya, menambah lapisan misteri pada peristiwa tersebut.
Hingga kini, misteri di balik pembunuhan Raja Faisal bin Abdul Aziz Al Saud tetap menjadi salah satu babak paling gelap dalam sejarah Arab Saudi, meninggalkan pertanyaan besar tentang sejauh mana pengaruh kekuatan asing dapat merasuk ke dalam inti kekuasaan sebuah negara dan mengubah jalannya sejarah.









Tinggalkan komentar