BNPB Ungkap Jurus Pamungkas Atasi Karhutla

Harimurti

BNPB Ungkap Jurus Pamungkas Atasi Karhutla

Lintaswarta.co.id melaporkan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mengintensifkan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas. Kepala BNPB, Suharyanto, menegaskan fokus utama berada di Sumatra Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Penanganan karhutla di wilayah-wilayah ini menjadi krusial mengingat dampak luas yang ditimbulkan terhadap lingkungan dan masyarakat.

Suharyanto menjelaskan bahwa strategi pemadaman yang diterapkan merupakan kombinasi dari tiga elemen penting: Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), operasi darat, dan operasi udara melalui water bombing. "Ketiganya tidak bisa dipisahkan," ujar Suharyanto. Ia menambahkan bahwa water bombing bertugas memadamkan "kepala api" atau bagian atas kebakaran, sementara pasukan darat kemudian masuk untuk membasahi lahan secara menyeluruh. Tanpa dukungan water bombing, risiko yang dihadapi pasukan darat akan jauh lebih tinggi dan upaya pemadaman menjadi kurang efektif.

BNPB Ungkap Jurus Pamungkas Atasi Karhutla
Sumber Istimewa : akcdn.detik.net.id

Dalam hal efektivitas, Suharyanto menempatkan OMC sebagai metode paling unggul karena kemampuannya menghasilkan hujan yang dapat memadamkan api di area yang sangat luas. Operasi darat menduduki peringkat kedua, terutama vital untuk penanganan lahan gambut yang memiliki bara api di bawah permukaan yang sulit dijangkau. Sementara itu, water bombing berada di urutan ketiga karena keterbatasan kapasitas angkut air, yang hanya sekitar 4 ton per sorti, sehingga jangkauannya terbatas pada titik-titik tertentu.

COLLABMEDIANET

Fenomena El Nino yang sangat kuat tahun ini, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menjadi penyebab utama peningkatan luas lahan yang terbakar. Lahan gambut, khususnya, memerlukan penanganan ekstra. Api di permukaan mungkin terlihat padam, namun bara di kedalaman gambut bisa tetap menyala. Untuk mengatasi ini, BNPB menggunakan alat suntik gambut yang mampu menyalurkan air hingga kedalaman 1-2 meter, memastikan pembasahan menyeluruh hingga tanah berubah tekstur seperti bubur.

Secara nasional, data BNPB per 8 September 2026 menunjukkan total indikasi luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 76.922,3 hektare. Hingga 6 September 2026, dari 72.009,10 hektare lahan gambut yang terbakar, sekitar 939,45 hektare masih dalam proses pemadaman intensif. Suharyanto juga membedakan antara hotspot (titik panas) yang terdeteksi satelit dan fire spot (titik kebakaran yang benar-benar ditemukan di lapangan), menegaskan bahwa yang dipadamkan adalah fire spot.

Berbagai kendala masih dihadapi di lapangan. Di Riau, laporan per 10 September 2026 mencatat lebih dari 19.000 hektare lahan terbakar sejak awal tahun, dengan sekitar 326 hektare masih memerlukan penanganan. Kalimantan Tengah melaporkan 7.634,46 hektare terbakar per tanggal yang sama, dengan 90 fire spot dan sekitar 71,2 hektare masih ditangani, terutama lahan gambut yang butuh pendinginan lebih lama. Di Kalimantan Selatan, meskipun sebagian besar area seluas 121,6 hektare telah berhasil diamankan, asap dan beberapa titik api masih terdeteksi di kawasan lain. Data 9 September 2026 menunjukkan 27 fire spot dengan estimasi 36,18 hektare masih dalam penanganan intensif.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar