Dilema Negara Muslim di Sidang PBB

Harimurti

Dilema Negara Muslim di Sidang PBB

lintaswarta.co.id – Suasana Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York, Amerika Serikat, mendadak mencekam dan penuh ketegangan. Saat Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melangkah menuju podium untuk menyampaikan pidatonya, ruang sidang yang biasanya penuh sesak mendadak berubah menjadi pemandangan yang kontras. Gelombang protes massal meledak dalam bentuk aksi walkout besar-besaran oleh puluhan delegasi negara.

Berdasarkan laporan yang dihimpun, lebih dari 70 negara memutuskan untuk meninggalkan ruangan atau membiarkan kursi mereka kosong sebagai bentuk protes keras terhadap kebijakan Israel. Aksi ini merupakan respons terhadap eskalasi konflik di Gaza dan Tepi Barat yang terus memakan korban jiwa warga sipil. Namun, di tengah gelombang protes tersebut, dinamika politik internasional terlihat sangat kompleks karena tidak semua negara mengambil sikap yang sama.

Dilema Negara Muslim di Sidang PBB
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Meskipun mayoritas negara Muslim melakukan aksi protes, sejumlah negara dengan mayoritas penduduk Muslim tercatat tetap memilih untuk tetap berada di dalam ruang sidang. Negara-negara tersebut antara lain adalah Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Azerbaijan, dan Kazakhstan. Selain itu, beberapa negara lain seperti Albania, Maroko, dan Senegal juga dilaporkan tidak mengikuti aksi walkout tersebut, memilih untuk tetap menempatkan perwakilan mereka di dalam ruangan selama pidato berlangsung.

COLLABMEDIANET

Fenomena ini menunjukkan adanya perbedaan posisi diplomatik yang tajam di panggung dunia. Di sisi lain, sejumlah negara Barat juga terlihat tetap mempertahankan perwakilan mereka di dalam ruangan. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Jerman, Argentina, Hungaria, Serbia, Ukraina, Republik Ceko, dan Yunani tercatat masih memiliki delegasi yang menyaksikan pidato tersebut. Selain itu, Inggris, Prancis, Irlandia, Belgia, Norwegia, serta delegasi Uni Eropa juga memilih untuk tetap hadir.

Indonesia, sebagai salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, secara tegas menunjukkan solidaritasnya. Indonesia menjadi bagian dari gelombang walkout besar-besaran bersama negara-negara seperti Turki, Palestina, Tunisia, Suriah, Aljazair, Yaman, Mesir, Irak, Arab Saudi, Yordania, Iran, Qatar, Lebanon, Malaysia, dan Kuwait. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap tindakan militer Israel yang dianggap melanggar hukum internasional.

Ketegangan di PBB ini sebenarnya berakar dari krisis kemanusiaan yang mendalam. Sebelumnya, Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB telah menyimpulkan adanya tindakan genosida yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina di Gaza. Selain itu, posisi hukum Netanyahu juga semakin terpojok setelah Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadapnya terkait dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Aksi walkout ini meninggalkan banyak kursi kosong di ruang sidang, menciptakan pemandangan yang simbolis mengenai betapa terbelahnya opini dunia terhadap konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Di tengah sorotan dunia, pidato Netanyahu di PBB kali ini bukan sekadar penyampaian program, melainkan menjadi panggung yang memperlihatkan keretakan diplomasi global antara pendukung dan penentang kebijakan Israel.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar