Lintaswarta.co.id – Pasar agribisnis nasional bergejolak positif pada Rabu (18/2/2026), menyambut antusias rencana penandatanganan kesepakatan dagang strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat. Sentimen positif ini berpangkal dari agenda kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Washington D.C. yang dijadwalkan besok, 19 Februari 2026, untuk menyepakati Agreement on Reciprocal Trade (ART), sebuah langkah yang diprediksi akan menjadi katalis signifikan bagi sektor komoditas, khususnya kelapa sawit (CPO) dan kakao.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, yang telah lebih dulu bertolak ke Washington D.C., mengemban misi krusial: negosiasi penghapusan atau pengecualian tarif resiprokal untuk komoditas unggulan ekspor Indonesia, yakni CPO dan kakao. Inisiatif ini dipandang sebagai upaya fundamental untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Saham CPO Bergairah, Tarif 32% Menuju Nol?

Related Post
Merespons kabar gembira ini, mayoritas saham emiten perkebunan mencatatkan pergerakan variatif, namun dengan kecenderungan menguat pada saham-saham CPO. Investor merespons antusias potensi perubahan struktur biaya ekspor, di mana tarif masuk ke Amerika Serikat yang sebelumnya berada di kisaran 32% berpeluang besar dipangkas menjadi 0% atau mendapatkan pengecualian khusus. Pemangkasan tarif ini akan secara signifikan mengurangi beban biaya dan meningkatkan profitabilitas eksportir Indonesia.
Berdasarkan data United States Department of Agriculture (USDA) tahun 2023, Indonesia telah mendominasi pasar minyak tropis AS, dengan nilai ekspor mencapai US$2,13 miliar dan menguasai lebih dari 70% total impor komoditas tersebut. Angka ini menggarisbawahi posisi strategis Indonesia dalam negosiasi dagang kali ini.
Pemerintah Matangkan Strategi di Hambalang
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, dalam keterangan persnya menyatakan bahwa pemerintah telah memfinalisasi strategi negosiasi. Serangkaian pertemuan koordinasi intensif antara Presiden Prabowo Subianto dan jajaran menteri ekonomi telah digelar di Hambalang, Bogor, pada Minggu (15/02), guna mematangkan posisi tawar Indonesia.
"Secara substansi, negosiasi tarif telah rampung dan kedua negara telah menyelesaikan proses harmonisasi bahasa hukum. Kita berharap akan ada kejutan-kejutan positif dari ART yang semakin menguntungkan Indonesia," ujar Haryo, menyiratkan optimisme akan hasil yang akan dicapai.
Dengan prospek tarif 0%, sektor CPO Indonesia di ambang era baru yang lebih kompetitif di pasar global, khususnya Amerika Serikat. Penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) esok hari sangat dinanti untuk mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global dan membawa berkah bagi perekonomian nasional.









Tinggalkan komentar