Emas Anjlok Lalu Melesat! Kejutan Trump Ubah Segalanya?

Harimurti

Emas Anjlok Lalu Melesat! Kejutan Trump Ubah Segalanya?

Lintaswarta.co.id, Jakarta – Pasar logam mulia global mengalami hari yang penuh gejolak pada Senin (23/3/2026). Setelah anjlok tajam di sesi awal, harga emas, perak, dan platinum secara mengejutkan berhasil memangkas kerugian signifikan. Pembalikan arah ini dipicu oleh harapan baru akan meredanya ketegangan konflik Iran, menyusul pengumuman tak terduga dari Presiden AS Donald Trump.

Awalnya, sentimen "risk-off" yang dipicu oleh konflik Iran telah menekan harga komoditas berharga ini. CNBC International melaporkan, harga emas spot sempat terperosok lebih dari 5% pada Senin pagi, mencapai US$4.262,50 per ons. Kontrak berjangka emas bahkan sempat anjlok hampir 10% sebelum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Kekhawatiran akan inflasi dan kenaikan harga energi akibat konflik telah mendorong investor menjauhi aset-aset berisiko.

Emas Anjlok Lalu Melesat! Kejutan Trump Ubah Segalanya?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, suasana pasar berubah drastis setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Keputusan ini diambil menyusul pembicaraan yang disebutnya "baik dan produktif" antara kedua negara. Pengumuman tersebut sontak menyuntikkan optimisme, meredakan kekhawatiran eskalasi konflik, dan mendorong pemulihan harga logam mulia. Pada pukul 11:40 pagi waktu London (7:40 pagi ET), harga emas spot diperdagangkan di sekitar US$4.412, sementara emas berjangka terpantau sekitar 4% lebih rendah pada US$4.392.

COLLABMEDIANET

Meski demikian, emas masih berjuang untuk pulih sepenuhnya dari tekanan sebelumnya. Setelah mencapai rekor tertinggi US$5.594,92 per ons pada akhir Januari, harga emas spot kini telah kehilangan sekitar 25% nilainya. Pekan lalu, logam kuning ini mencatat kinerja terburuknya sejak September 2011, anjlok hampir 10%.

Penjualan besar-besaran juga melanda perak dan platinum. Harga perak spot ambruk 5,9% menjadi US$63,76, level terendah tahun ini dan hampir setengah dari puncaknya US$117 pada 28 Februari saat perang Iran dimulai. Kontrak berjangka perak masih diperdagangkan 8,3% lebih rendah pada US$63,98. Sementara itu, platinum berjangka terjun 9,7% ke US$1.780,20, dan paladium turun 4,7% menjadi US$1.377,50.

Para ahli strategi pasar menyoroti bahwa penurunan harga emas, yang secara tradisional dianggap sebagai "safe haven", sejalan dengan sentimen pasar yang menghindari risiko. Prospek suku bunga yang lebih tinggi akibat perang dapat membuat obligasi pemerintah lebih menarik bagi investor, mengorbankan logam mulia yang tidak menghasilkan imbal hasil. Nic Puckrin, salah satu pendiri Coin Bureau, berpendapat bahwa "taruhan dalam perang Iran baru saja meningkat, dan apa yang kita lihat adalah pelarian terakhir ke tempat yang aman. Ini persis bagaimana perdagangan momentum yang ramai berakhir." Ia menambahkan, pergerakan logam mulia mengindikasikan bahwa bank sentral dan negara-negara Teluk kini memanfaatkan cadangan emas mereka untuk pelestarian modal, bukan akumulasi, yang akan membatasi harga emas secara alami.

Meskipun ada secercah harapan dari pengumuman Trump, pasar tetap waspada. Imbal hasil obligasi pemerintah zona euro kembali bergerak naik pada awal perdagangan Senin, menunjukkan bahwa ketidakpastian masih membayangi. Situasi geopolitik yang fluktuatif, termasuk ultimatum AS kepada Iran sebelumnya mengenai Selat Hormuz, terus menjadi faktor penentu pergerakan harga komoditas global.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar