Lintaswarta.co.id – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum keras terkait penutupan Selat Hormuz. Namun, peringatan tersebut justru disambut respons tajam dari pejabat tinggi Iran, yang balik mengancam bahwa kebijakan Washington justru akan membawa "neraka" ke negeri Paman Sam sendiri, bukan ke Iran.
Dalam unggahan bernada keras di platform Truth Social pada Minggu, Trump dengan tegas memperingatkan bahwa Iran akan "hidup dalam neraka" jika jalur pelayaran strategis tersebut tidak segera dibuka kembali untuk kapal-kapal perdagangan sebelum Selasa pukul 20.00 waktu Timur AS. Tak hanya itu, Trump juga kembali mengancam akan menyerang infrastruktur vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, jika tuntutannya tidak dipenuhi.
Menanggapi ancaman tersebut, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, segera merespons melalui platform X pada Senin. Qalibaf mendesak Trump untuk menghentikan apa yang ia sebut sebagai "permainan berbahaya." "Langkah-langkah gegabah Anda menyeret Amerika Serikat ke dalam NERAKA yang mengerikan bagi setiap keluarga, dan seluruh wilayah kita akan terbakar karena Anda bersikeras mengikuti perintah Netanyahu," tulis Qalibaf, merujuk pada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia menambahkan peringatan keras kepada Washington bahwa strategi militer tidak akan membawa keuntungan bagi AS. "Jangan salah paham: Anda tidak akan mendapatkan apapun melalui kejahatan perang," tegas pejabat Iran tersebut.

Related Post
Eskalasi ini bermula dari penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Keputusan ini diambil setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian kampanye serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Tak lama setelah operasi militer itu dimulai, Teheran mengumumkan bahwa selat tersebut akan ditutup bagi kapal-kapal yang dianggap "musuh," secara spesifik menargetkan kapal Amerika Serikat dan Israel untuk jangka waktu yang diperpanjang. Pemerintah Iran kemudian menegaskan bahwa aturan navigasi di kawasan tersebut akan diubah.
Selat Hormuz sendiri merupakan arteri energi paling krusial di dunia. Diperkirakan sekitar 20% pengiriman minyak global dan 20% perdagangan gas alam cair (LNG) dunia melintas melalui perairan sempit ini. Oleh karena itu, gangguan terhadap lalu lintas di selat tersebut, akibat konflik yang sedang berlangsung, telah mulai memicu gejolak signifikan di pasar energi global, termasuk kenaikan harga di Amerika Serikat.
Kritik terhadap pendekatan Washington juga datang dari komunitas internasional. Duta Besar Rusia untuk organisasi internasional di Wina, Mikhail Ulyanov, menyatakan bahwa pemerintah AS gagal memahami posisi Iran dalam proses negosiasi. Menurut Ulyanov, sebagaimana dilansir media, Teheran hanya akan menerima kesepakatan yang didasarkan pada "kompromi yang masuk akal," bukan tekanan atau ultimatum sepihak dari pihak luar. Situasi ini menggarisbawahi betapa rapuhnya stabilitas regional dan global di tengah retorika keras dan aksi militer yang saling berbalas, dengan potensi konsekuensi yang jauh melampaui batas-batas negara yang terlibat langsung.









Tinggalkan komentar