Lintaswarta.co.id – Iran secara mengejutkan mulai menerapkan kebijakan blokade selektif di Selat Hormuz, memberikan lampu hijau bagi kapal-kapal komersial asal Jepang untuk melintasi jalur perairan vital tersebut. Langkah ini menandai pelonggaran signifikan setelah Teheran sebelumnya memblokir hampir seluruh aktivitas pelayaran sejak serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu, sebuah keputusan yang sangat melegakan bagi Jepang yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Konfirmasi kebijakan rute khusus ini datang langsung dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, usai berdialog dengan perwakilan pemerintah Jepang. Dalam wawancara dengan Kyodo News, yang juga dilansir AlJazeera, Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak pernah ditutup sepenuhnya. "Kami belum menutup selat tersebut. Menurut pendapat kami, selat itu terbuka. Selat itu hanya ditutup untuk kapal-kapal milik musuh kami, negara-negara yang menyerang kami. Untuk negara lain, kapal dapat melewati selat tersebut," jelas Araghchi, seraya menambahkan bahwa pihak keamanan Iran siap memfasilitasi perjalanan kapal dari negara-negara yang tidak terlibat dalam agresi terhadap wilayahnya.
Pelonggaran ini sontak menjadi "angin segar" bagi Tokyo. Jepang, yang mengimpor lebih dari 90% kebutuhan minyak mentahnya dari Timur Tengah, sangat terancam ketahanan energinya akibat penutupan Selat Hormuz selama tiga pekan terakhir. Araghchi lebih lanjut menjelaskan kesediaan Teheran: "Kami sedang berbicara dengan mereka untuk menemukan cara agar dapat melintas dengan aman. Kami siap memberi mereka jalur yang aman. Yang perlu mereka lakukan hanyalah menghubungi kami untuk membahas bagaimana rute ini nantinya."

Related Post
Kebijakan blokade selektif ini juga mengindikasikan pergeseran signifikan dalam sikap Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Sebelumnya, pada awal konflik, IRGC sempat melontarkan ancaman keras untuk membakar seluruh kapal yang berani melintas. Kini, IRGC dilaporkan tengah sibuk mengembangkan sistem pemeriksaan dan registrasi yang lebih terkoordinasi, khusus bagi kapal-kapal komersial yang ingin menggunakan jalur perairan strategis tersebut.
Menurut laporan dari layanan informasi maritim Lloyd’s List, setidaknya sepuluh kapal telah berhasil melewati selat tersebut dengan berlayar merapat ke garis pantai Iran, yang kini difungsikan sebagai koridor aman. Dengan kesepakatan teranyar ini, Jepang akan menyusul jejak sejumlah negara lain seperti China, India, dan Pakistan, yang kapalnya telah lebih dulu mendapatkan izin melintas dari otoritas Teheran, menegaskan diplomasi Iran yang kini lebih terarah.









Tinggalkan komentar