Lintaswarta.co.id, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kini tengah membuka babak baru dalam eksplorasi energi nasional dengan menggelar proses tender untuk sembilan wilayah kerja (WK) atau blok minyak dan gas bumi (migas) baru. Langkah strategis ini merupakan bagian integral dari upaya pemerintah untuk mengoptimalkan potensi besar dari 110 blok migas baru yang telah diidentifikasi dan ditawarkan kepada para investor.
Berdasarkan data terkini dari Kementerian ESDM per Januari 2026, dari total 110 blok migas potensial yang ditawarkan, 19 area telah berhasil menarik minat investor dan statusnya kini telah ‘awarded’ atau laku. Sementara itu, 39 area lainnya masih dalam tahap kajian bersama (joint-study), dan 52 area sisanya dikategorikan sebagai potensi area lainnya. Dari 52 potensi area inilah, sembilan blok migas kini memasuki fase tender yang diharapkan dapat menarik investasi signifikan.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan adanya perubahan fundamental dalam pendekatan penawaran wilayah kerja migas baru dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dahulu, penawaran blok migas cenderung menunggu inisiasi kajian bersama dari badan usaha yang sudah beroperasi, sehingga pertumbuhan blok migas baru berjalan lambat. Namun, dalam dua tahun terakhir, Kementerian ESDM mengambil alih peran joint-study tersebut.

Related Post
"Percepatan ini terbukti efektif," ujar Laode dalam acara Energy Outlook 2026 CNBC Indonesia, Jumat (13/02/2026). Ia menambahkan, jumlah blok migas yang ditawarkan melonjak drastis dari 75 blok pada tahun 2022 menjadi 110 WK saat ini. "Ini merupakan nilai yang signifikan dan penambahannya belum pernah terjadi sebelumnya," tegasnya.
Laode juga menekankan bahwa setiap WK yang dilelang saat ini mendapatkan perhatian serius dan penawaran dari calon investor, menandakan tingginya kecepatan pemerintah dalam menarik investasi. Meskipun dibutuhkan waktu sekitar 4-5 tahun sejak penetapan pemenang lelang hingga blok tersebut dapat mulai berproduksi, langkah ini krusial untuk menjamin keberlanjutan pasokan energi nasional di masa mendatang.
"Jaminan jangka panjang kita untuk bisa menjaga kecepatan produksi tentu berasal dari WK yang ditemukan pada hari ini. Jika ini tidak segera kita percepat, maka mungkin beberapa tahun ke depan produksi bisa menurun lagi," jelas Laode. Ia menyoroti dampak positif kebijakan ini, termasuk kembalinya investor asing seperti Shell ke sektor hulu migas setelah sempat berkurang.
Komitmen Kementerian ESDM tidak hanya berhenti pada penawaran blok, melainkan juga pada penyederhanaan birokrasi. "Proses mulai dari menawarkan sampai berproduksi itu speed-nya sudah kita percepat. Ratusan regulasi telah dipangkas dan disederhanakan. Ini penting karena investor juga memerlukan kecepatan dalam proses menginisiasi investasi yang ditanamkan," pungkas Laode, menegaskan upaya pemerintah untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif dan menarik.








Tinggalkan komentar