Resesi AS: Mengapa Selalu Diprediksi Tapi Tak Kunjung Tiba?

Harimurti

Resesi AS: Mengapa Selalu Diprediksi Tapi Tak Kunjung Tiba?

Lintaswarta.co.id, Jakarta – Ancaman resesi di Amerika Serikat (AS) kembali menghantui di tengah tekanan ekonomi global dan lonjakan harga energi yang tak kunjung mereda. Namun, pertanyaan krusial yang terus mengemuka adalah: kapan sebenarnya badai ekonomi ini akan datang? Fenomena ini menarik, mengingat prediksi resesi seringkali meleset dari kenyataan, meninggalkan para ekonom dan pelaku pasar dalam kebingungan.

Sejumlah ekonom dan pelaku pasar mulai menunjukkan kekhawatiran yang mendalam. Hady Farag, mitra dan direktur asosiasi di Boston Consulting Group, mengungkapkan bahwa pasar kini bersiap menghadapi skenario terburuk. "Orang-orang mempersiapkan diri untuk kenyataan bahwa kita sudah berada dalam resesi sekarang atau ada kemungkinan besar kita akan segera berada dalam resesi," ujarnya, seperti dikutip CNN International. Kekhawatiran ini diperparah oleh tingginya harga energi, yang secara historis sering menjadi sinyal awal resesi. Kebijakan ekonomi Presiden AS, Donald Trump, mulai dari tarif hingga imigrasi, juga dinilai menambah lapisan ketidakpastian.

Resesi AS: Mengapa Selalu Diprediksi Tapi Tak Kunjung Tiba?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dan Suzuki, ahli strategi portofolio di Richard Bernstein Advisors, turut menyoroti meningkatnya kecemasan di pasar finansial. "Pasar keuangan semakin menunjukkan tanda-tanda ketakutan akan resesi," kata Suzuki. Namun, sejarah mencatat bahwa prediksi resesi seringkali tidak tepat. Dalam delapan tahun terakhir, para ekonom hampir setiap tahun memperingatkan potensi resesi, tetapi hanya sekali benar-benar terjadi, yaitu pada tahun 2020 ketika pandemi Covid-19 memicu kontraksi ekonomi global yang singkat namun tajam.

COLLABMEDIANET

Ambil contoh pada tahun 2022. Inflasi yang tinggi, lonjakan harga minyak akibat perang Rusia-Ukraina, serta kenaikan suku bunga agresif oleh bank sentral AS membuat banyak pihak yakin resesi tak terhindarkan. Bahkan, model Bloomberg sempat memproyeksikan peluang resesi mencapai 100% dalam 12 bulan ke depan. Namun, ekonomi AS tetap tangguh hingga tahun 2025, menepis semua prediksi tersebut.

Fenomena ini memunculkan beberapa teori untuk menjelaskan mengapa resesi yang diprediksi tak kunjung tiba. Salah satunya adalah konsep "resesi bergulir" (rolling recession), di mana pelemahan ekonomi hanya terjadi di sektor tertentu, sementara sektor lain tetap menunjukkan pertumbuhan. John M. Veitch, Dekan sekolah bisnis di Universitas Notre Dame de Namur, menjelaskan bahwa kondisi ini membuat resesi terasa tidak merata. "Orang-orang bertanya kapan resesi akan datang. Jika Anda berada di sektor teknologi tinggi, itu terjadi tiga tahun lalu," ujarnya, merujuk pada tekanan di sektor teknologi pada tahun 2022.

Selain itu, teori "berbentuk K" (K-shaped recovery) menunjukkan bahwa kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi tetap mampu berbelanja, sehingga menopang konsumsi secara keseluruhan meskipun kelompok berpenghasilan rendah tertekan. Ada pula faktor "pengeluaran di muka" (front-loading spending), di mana ancaman kebijakan tarif mendorong pelaku usaha dan konsumen mempercepat belanja sebelum kebijakan diterapkan, yang secara tidak langsung menopang pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek.

Sementara itu, Kepala Ekonom EY-Parthenon, Greg Daco, memperkirakan peluang resesi AS saat ini sekitar 40%. Risiko tersebut dapat meningkat signifikan jika konflik geopolitik, terutama di Timur Tengah, semakin memburuk. "Ada risiko resesi yang nyata," kata Long, seorang ekonom yang tidak ingin disebut sebagai peramal bencana, menggarisbawahi kehati-hatian dalam memprediksi masa depan ekonomi.

Dengan berbagai ketidakpastian yang ada, ekonomi AS kini berada di persimpangan jalan. Meskipun tanda-tanda perlambatan semakin terlihat dan kekhawatiran terus membayangi, resesi yang telah lama diprediksi itu masih belum benar-benar terjadi, meninggalkan pertanyaan besar tentang kapan, atau bahkan apakah, badai ekonomi ini akan menghantam.

(sef/sef)

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar