Lintaswarta.co.id, Jakarta – Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 15% dalam satu hari perdagangan pada Kamis (19/2/2026). Kenaikan impresif ini membawa posisi saham MBMA kembali mendekati level tertinggi yang pernah dicapai sejak penawaran umum perdana (IPO).
Pada perdagangan Kamis tersebut, saham MBMA melesat hingga lebih dari 15% dari harga pembukaan, mencapai level Rp945 per saham. Angka ini hanya selisih tipis dari rekor tertinggi MBMA di Rp955, yang sempat disentuh saat pertama kali melantai di bursa pada 18 April 2023. Meskipun pada Jumat (20/2/2026) pukul 09.26 WIB saham MBMA sempat terkoreksi 1,7% ke level Rp890, prospek kenaikan di masa mendatang dinilai masih terbuka lebar.
Lonjakan harga saham ini juga diiringi dengan aktivitas transaksi yang sangat ramai di pasar. Total volume perdagangan saham MBMA mencapai 982,2 juta saham, dengan frekuensi 73,5 ribu kali transaksi, dan nilai transaksi yang fantastis mencapai Rp872,8 miliar. Menariknya, MBMA menjadi salah satu saham yang paling banyak diburu oleh investor asing, dengan catatan pembelian bersih mencapai 233,2 juta saham.

Related Post
Di balik euforia pasar tersebut, prospek jangka panjang MBMA dinilai tetap cerah seiring dengan akselerasi ekspansi hilirisasi, khususnya melalui proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) dan Acid Iron Metal (AIM). Kedua proyek ini terus menunjukkan kemajuan signifikan dalam pembangunannya.
Meskipun demikian, kinerja keuangan MBMA pada sembilan bulan pertama tahun 2025 (belum diaudit) mencatat pendapatan sebesar US$ 935 juta, turun 32% secara tahunan (yoy). Penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya kontribusi dari segmen nickel pig iron (NPI) dan high-grade nickel matte (GNM), yang dipengaruhi oleh pemeliharaan fasilitas pengolahan serta penyesuaian produksi. Kenaikan volume bijih nikel dari sisi hulu pada semester I belum mampu menutupi penurunan dari lini pengolahan.
Namun, sentimen pasar kini mulai menunjukkan perbaikan. Harga nikel global, yang sebelumnya tertekan akibat kelebihan pasokan dari Asia, kini kembali menguat ke kisaran US$ 17.000 per ton. Penguatan ini dipicu oleh rencana pemerintah Indonesia untuk mengurangi kuota produksi nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026. Langkah ini dinilai pasar berpotensi mengurangi tekanan pasokan global, sehingga mendorong kenaikan harga.
Dengan membaiknya prospek harga nikel dan rencana operasional proyek HPAL secara bertahap pada pertengahan 2026, outlook kinerja MBMA untuk tahun 2026 dinilai akan lebih konstruktif. Proyek HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) sendiri telah mencapai progres pembangunan pabrik sekitar 54% dan 29% untuk fasilitas Feed Preparation Plant (FPP). Tahap pertama commissioning ditargetkan pada pertengahan tahun depan.
Ini mengindikasikan bahwa reli saham MBMA saat ini tidak hanya didorong oleh faktor teknikal semata, melainkan juga oleh ekspektasi pasar yang kuat terhadap pemulihan harga nikel global dan transformasi hilirisasi yang berpotensi meningkatkan kontribusi bisnis baterai di masa depan.









Tinggalkan komentar