Melansir Lintaswarta.co.id, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada tahun 2025 mencatat kinerja yang mengkhawatirkan, dengan defisit mencapai angka tertinggi dalam dua dekade terakhir, tepatnya sejak tahun 2004. Data resmi dari Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa NPI secara tahunan membukukan defisit sebesar US$7,84 miliar, sebuah angka yang memicu sorotan tajam terhadap ketahanan ekonomi nasional.
Sebagai informasi, NPI adalah catatan statistik komprehensif yang disusun oleh Bank Indonesia. Fungsinya merangkum seluruh transaksi ekonomi yang terjadi antara penduduk Indonesia dan nonresiden dalam periode tertentu. Ini mencakup spektrum luas, mulai dari aktivitas perdagangan barang dan jasa, pembayaran pendapatan, transfer, hingga aliran investasi dan pembiayaan. Oleh karena itu, NPI menjadi salah satu indikator krusial untuk mengukur ketahanan eksternal perekonomian serta stabilitas nilai tukar rupiah.
Ketika defisit NPI membengkak, banyak pihak secara refleks menunjuk pada pelebaran defisit transaksi berjalan sebagai penyebab utama. Namun, kondisi di tahun 2025 menyajikan narasi yang sedikit berbeda dan justru mengejutkan. Transaksi berjalan, yang sering menjadi kambing hitam, justru menunjukkan perbaikan signifikan. Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan pada 2025 hanya sebesar US$1,45 miliar, jauh membaik dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$8,5 miliar. Ini berarti, defisit transaksi berjalan menyusut sekitar US$7 miliar.

Related Post
Lantas, apa pemicu sebenarnya di balik defisit NPI yang membengkak ini? Penelusuran lebih dalam menunjukkan bahwa biang keladi utama adalah memburuknya transaksi finansial, yang berbalik mencatat defisit sebesar US$4,54 miliar pada tahun 2025. Transaksi finansial sendiri merupakan komponen NPI yang merekam arus masuk dan keluar modal serta investasi, termasuk investasi langsung, investasi portofolio, dan instrumen keuangan lainnya.
Fenomena ini terbilang tidak biasa dan memecah pola historis. Sejak tahun 2004, transaksi finansial kerap bertindak sebagai penopang NPI, khususnya saat transaksi berjalan mengalami defisit. Artinya, ketika satu komponen melemah, komponen lain biasanya memberikan dukungan. Namun, tahun 2025 menjadi anomali karena baik transaksi berjalan maupun transaksi finansial sama-sama mencatat defisit secara bersamaan. Defisit pada neraca finansial ini mengindikasikan adanya perlambatan arus investasi langsung asing ke Indonesia, sekaligus eksodus modal asing dari pasar keuangan Tanah Air.
Melihat lebih rinci, investasi langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) ke Indonesia pada tahun 2025 mengalami penurunan signifikan, menjadi US$14,08 miliar dari US$15,88 miliar di tahun 2024. Angka ini sekaligus menjadi yang terendah dalam tujuh tahun terakhir, atau sejak 2018. Perlambatan investasi langsung ini patut menjadi perhatian serius, mengingat aliran dana ini bersifat jangka panjang dan selama ini menjadi salah satu pilar penting ketahanan eksternal Indonesia. Pelemahan ini bisa menjadi sinyal bahwa para pelaku usaha masih menimbang risiko, baik akibat ketidakpastian global maupun dinamika penyesuaian kebijakan di dalam negeri. Padahal, investasi langsung memiliki efek berantai yang masif terhadap ekonomi riil, terutama dalam penciptaan lapangan kerja.
Kondisi serupa juga terjadi pada investasi portofolio, yang sering disebut sebagai ‘hot money’. Komponen ini tercatat defisit sebesar US$9,24 miliar di tahun 2025. Angka ini berbanding terbalik drastis dengan tahun sebelumnya, di mana investasi portofolio masih mencatat surplus sebesar US$11,63 miliar. Berbeda dengan investasi langsung, investasi portofolio lebih mengarah pada penanaman modal di pasar saham dan obligasi, yang cenderung bergerak cepat dan sangat sensitif terhadap sentimen jangka pendek.









Tinggalkan komentar