Lintaswarta.co.id, Jakarta – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas ke titik kritis. Israel secara mengejutkan mengumumkan rencana untuk mengambil alih sebagian wilayah selatan Lebanon, dengan dalih membentuk "zona penyangga defensif." Bersamaan dengan itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan kembali komitmennya untuk terus menggempur Iran, sebuah pernyataan yang dengan cepat meredupkan harapan deeskalasi konflik yang sebelumnya sempat diisyaratkan oleh Presiden AS Donald Trump.
Dalam sebuah pertemuan dengan kepala staf militer, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menguraikan strategi pasukannya. Ia menyatakan bahwa militer Israel akan "mengendalikan jembatan-jembatan yang tersisa dan zona keamanan hingga Litani," merujuk pada Sungai Litani yang mengalir ke Laut Mediterania, sekitar 30 kilometer di utara perbatasan Israel. Katz mengklaim bahwa jembatan-jembatan tersebut selama ini digunakan oleh kelompok bersenjata Hizbullah untuk memindahkan personel dan senjata ke Lebanon selatan. Pernyataan ini mengindikasikan potensi kehadiran militer Israel yang berlangsung lama di wilayah tersebut, sebuah langkah yang segera dikecam oleh Hizbullah sebagai "ancaman eksistensial" bagi kedaulatan Lebanon.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Israel dari sayap kanan, Bezalel Smotrich, bahkan menyerukan agar Israel "menerapkan kedaulatan" di wilayah Lebanon selatan. Pernyataan Smotrich ini memicu kekhawatiran baik di dalam maupun luar negeri akan ambisi ekspansionis Israel yang semakin terbuka.

Related Post
Situasi internal Lebanon sendiri kian bergejolak. Pemerintah Lebanon mengambil langkah drastis dan belum pernah terjadi sebelumnya dengan mengusir duta besar Iran, Mohammad Reza Shibani, menyatakannya persona non grata dan memerintahkannya meninggalkan negara itu. Keputusan ini mencerminkan pergeseran signifikan dari puluhan tahun pengaruh Iran di Lebanon. Di tengah langkah tersebut, Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, mendesak Hizbullah untuk menghentikan serangan terhadap Israel, menegaskan bahwa membalas kepemimpinan Iran "tidak ada hubungannya dengan kita." Namun, Hizbullah mengecam pengusiran duta besar Iran sebagai tindakan yang melayani kepentingan Israel dan berpotensi memperdalam perpecahan internal di Lebanon.
Di tengah gejolak regional ini, Israel melancarkan gelombang baru serangan udara terhadap Iran. Netanyahu dengan tegas menyatakan, "Masih banyak lagi yang akan datang," mengindikasikan bahwa aksi militer terhadap Teheran akan terus berlanjut. Pandangan ini sejalan dengan penilaian tiga pejabat Israel yang skeptis terhadap kemungkinan Iran menerima tuntutan AS dalam putaran negosiasi baru.
Menanggapi eskalasi ini, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan keras. Dalam sebuah pernyataan pada Selasa, IRGC mengancam akan melancarkan serangan rudal dan drone besar-besaran terhadap pasukan Israel di Israel utara dan wilayah dekat Gaza "tanpa pengekangan" jika Israel tidak menghentikan serangannya di Lebanon dan Palestina.
Dengan Lebanon yang semakin terseret ke dalam pusaran konflik regional dan ancaman balasan yang serius dari Iran, prospek perdamaian di Timur Tengah tampak semakin suram, digantikan oleh bayang-bayang eskalasi yang lebih luas dan tak terduga.






Tinggalkan komentar