lintaswarta.co.id, Serang – Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya yang signifikan akhir pekan lalu. Erupsi terbaru ini, yang membuat status gunung tetap di Level III (Siaga), dilaporkan telah merusak kamera pemantau penting yang terpasang di perairan antara Pulau Sumatra dan Pulau Jawa.
Kerusakan pada kamera pantau ini menyebabkan pemantauan sementara harus dilakukan secara kasat mata, mengandalkan pengamatan visual dari pos pantau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, serta dari wilayah Lampung. Informasi mengenai rusaknya kamera ini termuat dalam laporan yang disusun oleh Rioboniek Situmorang dan diunggah ke Magma Indonesia, situs resmi milik Kementerian ESDM. Laporan tersebut secara spesifik menyatakan, "CCTV pengamatan di lapangan OFF terkena lontaran."
Tak hanya merusak peralatan, suara gemuruh dan dentuman keras dari letusan Gunung Anak Krakatau juga terdengar jelas hingga Pos Pantau Pasauran. Rekaman video letusan ini pun dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial, menarik perhatian publik luas. Masyarakat diimbau keras untuk tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari puncak GAK demi menghindari potensi lontaran material berbahaya. Data kegempaan mencatat satu kali gempa letusan atau erupsi, dengan amplitudo 70 mm dan durasi mencapai 21.600 detik.

Related Post
Menanggapi kekhawatiran masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung, terkait potensi tsunami, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta warga tetap tenang dan tidak panik. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa kekhawatiran ini wajar mengingat pengalaman tsunami pada 22 Desember 2018. Namun, hasil evaluasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan bahwa pertumbuhan tubuh GAK pasca-2018 relatif kecil dan tidak berpotensi memicu keruntuhan masif yang dapat menyebabkan tsunami.
BNPB bersama PVMBG merekomendasikan sterilisasi total aktivitas di radius bahaya tiga kilometer bagi nelayan, wisatawan, maupun masyarakat umum. Warga juga diminta untuk memahami jalur evakuasi dan titik kumpul di pesisir, serta menghindari mendekati lokasi erupsi hanya untuk mendokumentasikan demi keselamatan bersama.







Tinggalkan komentar