Lintaswarta.co.id – Strategi militer Amerika Serikat (AS) yang kembali menempatkan superioritas udara sebagai andalan utama, dinilai berisiko tinggi mengulang pola konflik lama. Alih-alih menjanjikan kemenangan cepat, pendekatan ini justru berpotensi menyeret AS ke dalam pusaran perang berkepanjangan, demikian analisis mendalam dari The Guardian.
Akar pemikiran strategis ini bukanlah hal baru. Jejaknya dapat ditelusuri hingga tahun 1921, ketika jenderal Italia Giulio Douhet mengemukakan teorinya dalam buku "The Command of the Air". Douhet meyakini bahwa kemenangan mutlak dalam perang dapat dicapai melalui kampanye pemboman masif, termasuk menargetkan infrastruktur sipil, demi melumpuhkan moral dan kemampuan musuh. "Jauh lebih krusial menghancurkan logistik dan infrastruktur ketimbang menyerang garis depan," tulis Douhet, sebagaimana dikutip The Guardian pada Jumat (27/3).
Gagasan Douhet secara signifikan memengaruhi berbagai doktrin militer modern, termasuk yang diterapkan oleh AS dalam sejumlah konflik besar. Dalam konteks terkini, retorika agresif Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengenai potensi operasi udara terhadap Iran, menunjukkan kemiripan pola pikir tersebut. Hegseth bahkan mengklaim serangan udara sebagai metode paling mematikan dan presisi sepanjang sejarah. "Kuantitas memiliki kualitas tersendiri… ini akan menjadi volume serangan tertinggi yang pernah dilakukan Amerika," tegasnya.

Related Post
Namun, pandangan ini dibantah oleh analis pertahanan Winslow Wheeler. Ia menilai klaim Hegseth lebih banyak berkutat pada gaya komunikasi persuasif ketimbang substansi strategi yang benar-benar baru. "Yang tidak mereka pahami adalah bahwa sifat dasar manusia tidak berubah," ujar Wheeler. Menurutnya, pemboman justru seringkali memicu gelombang perlawanan yang lebih kuat, alih-alih membuat musuh menyerah. "Serangan Jerman terhadap Inggris tidak melemahkan tekad, justru semakin menyatukan mereka," imbuhnya.
Sejarah militer mencatat, dominasi udara seringkali gagal menghadirkan kemenangan mutlak yang dijanjikan. Ambil contoh Perang Vietnam, di mana teknologi sensor canggih AS untuk memutus jalur logistik Ho Chi Minh Trail berhasil diakali dengan cara-cara sederhana, termasuk penggunaan air kencing hewan untuk mengelabui detektor. Demikian pula dalam Perang Teluk 1991, klaim keberhasilan tinggi dari pesawat siluman F-117A terbukti dilebih-lebihkan. Sebuah studi dari Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS (GAO) mengungkap tingkat keberhasilan hanya berkisar 41%-60%, jauh di bawah klaim awal yang mencapai 80%.
Keterbatasan serupa juga terlihat dalam kampanye udara NATO di Kosovo pada tahun 1999. Laporan yang dikutip The Guardian menunjukkan bahwa ribuan serangan udara hanya mampu merusak sebagian kecil target militer Serbia, jauh dari efek melumpuhkan yang diharapkan. Fenomena ini berlanjut pada invasi Irak tahun 2003 melalui strategi "shock and awe". Meskipun diawali dengan ribuan bom presisi, serangan udara tersebut gagal menggulingkan rezim Saddam Hussein tanpa intervensi pasukan darat.
Analisis The Guardian lebih lanjut menegaskan bahwa klaim tentang teknologi canggih, termasuk integrasi kecerdasan buatan (AI) dan sistem otonom, tidak serta-merta mengubah dinamika atau hasil akhir perang. Meskipun Hegseth menyebut sistem-sistem ini kini terintegrasi dalam operasi militer, efektivitasnya di medan laga tetap dipertanyakan. "Teknologi memang semakin maju, tetapi itu tidak mengubah bagaimana manusia bereaksi di medan perang," pungkas Wheeler.
Dengan demikian, ketergantungan AS pada kekuatan udara berpotensi menjadi ilusi lama yang terus-menerus terulang. Alih-alih menghadirkan kemenangan yang cepat dan menentukan, strategi ini justru berisiko menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik yang jauh lebih kompleks, mahal, dan berkepanjangan.







Tinggalkan komentar