Lintaswarta.co.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengeluarkan peringatan serius terkait potensi datangnya fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat, yang dijuluki "Godzilla", ke Indonesia pada tahun ini. Prediksi ini mengindikasikan ancaman musim kemarau yang lebih panjang dan kering, berpotensi memicu kekeringan parah di sejumlah wilayah, namun di sisi lain juga membawa risiko banjir di area lain.
Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa El Nino merupakan anomali pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator. Fenomena ini secara fundamental mengurangi curah hujan di kepulauan Indonesia. Ketika El Nino mencapai fase kuat, ia dijuluki "Godzilla" karena kemampuannya memicu anomali iklim yang signifikan dan memperpanjang durasi kemarau kering. Lebih lanjut, model global juga mengindikasikan kemunculan Indian Ocean Dipole (IOD) positif secara bersamaan, yang ditandai dengan pendinginan suhu permukaan laut di sekitar Sumatra dan Jawa, memperparah defisit curah hujan, khususnya di bagian barat Indonesia. Kombinasi keduanya menyebabkan pembentukan awan dan hujan terkonsentrasi di Samudra Pasifik, sementara Indonesia mengalami minimnya tutupan awan dan presipitasi.
Kombinasi El Nino dan IOD positif ini diperkirakan akan mendominasi sepanjang musim kemarau 2026, yaitu dari bulan April hingga Oktober. Namun, BRIN menekankan bahwa dampak dari "super El Nino" dan IOD positif ini tidak akan merata di seluruh wilayah Indonesia, sebuah pola yang serupa dengan kejadian pada tahun 2023.

Related Post
Analisis model prediksi BRIN menunjukkan bahwa sebagian besar Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi wilayah yang paling rentan mengalami kemarau kering lebih awal dan lebih intens. Kondisi ini berpotensi serius mengganggu sektor pertanian, khususnya di daerah-daerah yang dikenal sebagai lumbung padi nasional. Selain itu, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan juga diproyeksikan akan meningkat signifikan akibat kekeringan ekstrem.
Berbeda dengan wilayah barat dan selatan, BRIN memproyeksikan bahwa wilayah timur Indonesia, seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera, justru masih akan menerima curah hujan tinggi, bahkan di tengah periode musim kemarau. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi banjir dan tanah longsor di daerah tersebut, menuntut kesiapan mitigasi yang berbeda.
Menanggapi kompleksitas dampak ini, pemerintah didesak untuk segera menyusun dan mengimplementasikan langkah-langkah mitigasi yang spesifik dan adaptif untuk setiap wilayah. Erma Yulihastin mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional di wilayah Pantura Jawa serta mitigasi karhutla di Kalimantan dan Sumatra. Di sisi lain, fenomena kemarau kering ini juga membuka peluang unik bagi peningkatan produksi garam nasional, khususnya di wilayah selatan Indonesia. BRIN bahkan optimistis kondisi ini dapat mendorong Indonesia mencapai swasembada garam pada periode 2026-2027. "Pemerintah juga sebaiknya menyiapkan strategi untuk menangani kelebihan curah hujan di wilayah Sulawesi-Halmahera-Maluku dan dampaknya terhadap banjir dan longsor," tegas Erma.
Dengan skenario iklim yang demikian kompleks dan bervariasi antar daerah, kesiapan dan koordinasi lintas sektor menjadi kunci untuk meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan potensi positif yang mungkin timbul dari fenomena El Nino "Godzilla" dan IOD positif tahun ini.







Tinggalkan komentar