lintaswarta.co.id mengabarkan kabar duka dari salah satu ikon pariwisata Indonesia. Hamparan savana di kawasan Gunung Bromo yang biasanya memukau dengan hijaunya kini berubah drastis menjadi hamparan hitam legam. Perubahan menyedihkan ini merupakan dampak langsung dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejak awal pekan, tepatnya Senin (3/8). Kebakaran yang hingga kini masih menyisakan titik api di sejumlah lokasi ini telah menghanguskan ratusan hektare vegetasi di kawasan taman nasional tersebut.
Data terbaru dari Satriyo Nurseno, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jawa Timur, menunjukkan bahwa area yang dilalap si jago merah telah mencapai sekitar 176,2 hektare. Angka ini, menurutnya, masih berpotensi terus bertambah seiring dengan upaya pemadaman yang tak kenal lelah. Blok Bantengan, Blok Watu Gede, dan Pusung Jantur, yang sebelumnya menjadi magnet bagi para fotografer dan penikmat panorama, kini hanya menyisakan pemandangan gersang, diselimuti abu dan sisa-sisa hangus.
Vegetasi khas savana Bromo seperti cemara gunung, mentigen, akasia, dan semak belukar, kini tinggal kenangan. Kondisi tragis ini secara langsung berdampak pada sektor pariwisata. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) terpaksa menutup sebagian kawasan wisata sejak 3 Agustus malam, tanpa batas waktu yang ditentukan, demi keselamatan pengunjung dan mempermudah proses penanganan.

Related Post
Meski demikian, perjuangan tim gabungan belum usai. Titik api dilaporkan masih berkobar di wilayah timur kawasan, bergerak mendekati arah Bukit B29. Sementara itu, di wilayah utara Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura, serta di Bukit Jantur, api memang telah berhasil dipadamkan, namun kepulan asap tebal masih terlihat membumbung tinggi, menjadi saksi bisu keganasan api. Satriyo juga menyoroti kendala utama dalam operasi pemadaman: kontur lereng kaldera yang sangat terjal ditambah dengan hembusan angin kencang yang mempercepat penyebaran api.
Kepala BB TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menjelaskan bahwa penghitungan kerugian akibat kerusakan vegetasi dan dampak ekologis belum dapat dilakukan secara instan. "Itu butuh ahli," tegasnya, mengindikasikan perlunya kajian mendalam dari tenaga profesional. Tim gabungan yang melibatkan BPBD dari berbagai kabupaten (Probolinggo, Malang, Lumajang, Jatim), TNBTS, Polhut, hingga relawan peduli api, terus bersinergi. Mereka mengerahkan berbagai alat, mulai dari truk pemadam kebakaran, truk tangki, mobil L300 bermuatan tandon air, drone water spray, hingga helikopter water bombing jenis PK-DBM milik BNPB, dalam upaya heroik mengendalikan amukan api.







Tinggalkan komentar