lintaswarta.co.id – Krisis kemanusiaan yang mendalam kembali menyelimuti wilayah Palestina, khususnya di kawasan Masafer Yatta, selatan Hebron. Akibat penggusuran paksa yang terus berulang, sejumlah warga kini terpaksa meninggalkan rumah modern mereka dan kembali ke cara hidup primitif dengan tinggal di dalam gua.
Di desa Khirbet al-Dab’a, pemandangan memilukan terlihat jelas. Alih-alih membangun kembali rumah yang telah rata dengan tanah, warga justru sibuk memegang palu dan tatah. Mereka sedang memahat dinding batu gunung untuk menciptakan ruang hidup baru di dalam gua. Langkah ekstrem ini diambil karena tidak ada pilihan lain bagi mereka untuk tetap bertahan di tanah kelahiran mereka.
Salah satu warga yang tengah berjuang adalah Amer Dababsa. Pria ini menceritakan betapa beratnya perjuangan untuk memberikan tempat berteduh bagi keluarganya. Dengan penuh ketekunan, Amer telah menghabiskan waktu sekitar enam bulan untuk menggali dan memperluas sebuah gua. Tujuannya hanya satu: memastikan kedua istrinya dan keenam anaknya memiliki tempat untuk tidur dan berlindung dari cuaca.

Related Post
Amer mengungkapkan bahwa tekanan dari Administrasi Sipil Israel dan para pemukim membuat kehidupan mereka semakin terjepit. Pembongkaran bangunan secara masif memaksa warga untuk kembali ke pola hunian leluhur mereka, yakni memanfaatkan gua-gua alami yang ada di perbukitan gersang tersebut.
Kondisi di Khirbet al-Dab’a memang sangat memprihatinkan. Desa yang dihuni sekitar 120 warga Palestina ini terletak di area perbukitan yang sulit dijangkau, dengan akses jalan yang hanya berupa tanah berbatu. Fasilitas dasar pun sangat minim; warga harus mengandalkan panel surya untuk listrik dan mengandalkan truk tangki untuk mendapatkan pasokan air bersih karena tidak adanya jaringan pipa maupun kabel listrik.
Ketegangan di wilayah ini juga berdampak pada ekonomi warga. Jika sebelumnya mereka hidup dari beternak, kini penghasilan tersebut merosot tajam akibat serangan pemukim dan pembatasan akses ke lahan penggembalaan. Banyak keluarga kini hanya bisa mengandalkan tanaman musiman, pohon zaitun, serta pohon almond untuk menyambung hidup.
Di sisi lain, pihak Coordinator of Government Activities in the Territories (COGAT) menyatakan bahwa tindakan pembongkaran tersebut dilakukan berdasarkan penegakan aturan terhadap bangunan yang dianggap ilegal. Mereka mengklaim bahwa prosedur telah dijalankan sesuai kewenangan, termasuk pemberian pemberitahuan sebelum eksekusi dilakukan.
Namun, bagi warga seperti Mohammad Dababsa, seorang ayah dengan 11 anak, realitas yang dihadapi jauh lebih pahit. Ia telah menghabiskan waktu empat tahun untuk menyelesaikan dua gua secara bertahap. Satu gua difungsikan sebagai ruang tamu, sementara gua lainnya digunakan untuk aktivitas harian keluarga. Bagi mereka, gua bukan sekadar lubang di tanah, melainkan benteng terakhir untuk mempertahankan eksistensi di tengah konflik yang tak kunjung usai.








Tinggalkan komentar