lintaswarta.co.id – Tabrakan hebat yang melibatkan kereta api cepat Argo Bromo Anggrek (KA 4B) dengan KRL Commuter Line (KA 5568A) di Stasiun Bekasi Timur akhirnya menemui titik terang. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah merilis laporan teknis mendalam yang mengungkap kronologi detik-detik mencekam sebelum benturan terjadi pada 27 April 2026 lalu.
Berdasarkan data yang dihimpun dalam dokumen resmi KNKT, terungkap bahwa sesaat sebelum benturan terjadi, KA Argo Bromo Anggrek melaju dengan kecepatan 53 km/jam. Kecepatan tersebut tercatat pada pukul 20.52.09, yang berarti hanya berselang tiga detik sebelum tabrakan fatal terjadi pada pukul 20.52.12 di titik kilometer 28+915.
Laporan tersebut merinci upaya keras masinis dalam mengendalikan laju kereta yang sangat cepat. Sebelum tabrakan, masinis diketahui telah melakukan serangkaian prosedur pengereman secara bertahap. Proses ini dimulai dari penggunaan service brake dengan pengurangan minimum hingga mencapai tahap full service, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengaktifkan emergency brake atau rem darurat.

Related Post
Kronologi pengereman dimulai saat masinis menerima informasi adanya kecelakaan di jalur hilir melalui komunikasi dengan PPKP Timur. Pada pukul 20.51.16, kereta Argo Bromo Anggrek tercatat melaju dengan kecepatan tinggi, yakni mencapai 108 km/jam. Dalam kondisi tersebut, masinis mulai menurunkan posisi throttle dan mengoperasikan tuas rem otomatis.
Menariknya, laporan KNKT menyoroti adanya tindakan bail-off yang dilakukan oleh masinis. Tindakan ini diduga bertujuan untuk membuang udara dari brake cylinder lokomotif guna mencegah pengereman mendadak yang ekstrem pada lokomotif, sekaligus meminimalkan risiko tumbukan antar-rangkaian kereta di belakangnya. Namun, upaya ini tetap tidak mampu menghentikan laju kereta secara instan.
Fase pengereman darurat (emergency brake) sendiri berlangsung selama 25 detik, dimulai sejak pukul 20.51.56. Masinis baru mengaktifkan rem darurat ini saat kecepatan kereta telah turun ke angka 78 km/jam. Langkah ini diambil sebagai upaya terakhir setelah masinis melihat rangkaian paling belakang dari KRL yang menjadi korban tabrakan.
Data teknis menunjukkan bahwa saat benturan terjadi, posisi throttle sudah dalam keadaan off dengan tekanan udara brake pipe (BP) sebesar 0 psi. Meskipun upaya pengereman maksimal telah dilakukan, momentum laju kereta tetap membawa lokomotif menabrak KRL hingga akhirnya berhenti di kilometer 28+941 setelah bergerak sejauh 26 meter pasca-benturan.
Insiden ini menjadi perhatian serius bagi otoritas perkeretaapian nasional. Laporan KNKT ini diharapkan menjadi bahan evaluasi mendalam terkait sistem persinyalan dan prosedur keselamatan di titik-titik rawan guna mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang. Informasi lengkap mengenai detail teknis ini dapat diakses melalui laporan resmi di lintaswarta.co.id.








Tinggalkan komentar