lintaswarta.co.id – Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengeluarkan peringatan serius terkait eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah melanda wilayah Indonesia. Berdasarkan pantauan satelit terbaru, aktivitas kebakaran di kawasan Kalimantan dan Papua menunjukkan lonjakan yang sangat mengkhawatirkan sepanjang tahun 2026.
Kondisi ekstrem ini dipicu oleh fenomena El Niño yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan di sejumlah wilayah. NASA memperingatkan bahwa kebakaran hebat di kedua wilayah tersebut berpotensi melepaskan emisi karbon dalam jumlah masif ke atmosfer, yang dapat memperburuk krisis iklim global.
Dalam laporan resminya, NASA mencatat bahwa titik api tahun ini terkonsentrasi secara intensif di Kalimantan dan Papua, terutama di wilayah Indonesia bagian timur serta Papua Nugini. Fenomena ini menunjukkan pergeseran pola kebakaran dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di mana wilayah Sumatra dan Indonesia bagian barat justru mencatat aktivitas kebakaran yang relatif lebih rendah.

Related Post
Yang Chen, seorang peneliti dari University of California, Irvine, mengungkapkan bahwa Papua kini telah bertransformasi menjadi garis depan baru bagi ancaman deforestasi di Indonesia. Menurutnya, intensitas kebakaran di Papua Nugini dan Indonesia bagian timur jauh melampaui wilayah barat Indonesia saat ini.
Data dari Global Fire Emissions Database (GFED) memperkuat kekhawatiran tersebut. Hingga pertengahan Oktober 2026, kebakaran di Papua Nugini dilaporkan telah melepaskan hampir 32 juta ton karbon. Angka ini melampaui catatan tahunan mana pun dalam sejarah pencatatan di wilayah tersebut. Bahkan, ilmuwan Guido van der Werf memprediksi emisi tahun ini berpotensi menjadi yang tertinggi, melampaui rekor kebakaran hebat pada tahun 1997.
Kondisi serupa terjadi di wilayah Papua Indonesia, di mana emisi karbon telah menembus angka 35 juta ton. Catatan ini menempatkan tahun 2026 sebagai tahun dengan emisi tertinggi ketiga setelah tahun 1997 dan 2015, dua periode yang juga diwarnai oleh dampak ekstrem El Niño.
Melalui citra satelit NOAA-20 yang diambil pada 11 Oktober 2026, terlihat jelas kepulan asap tebal yang menyelimuti bagian selatan Pulau Papua. Asap tersebut telah menyelimuti wilayah tersebut selama berminggu-minggu sejak September, yang berdampak langsung pada aktivitas masyarakat. Polusi udara yang ekstrem telah menyebabkan penundaan jadwal penerbangan, penutupan sekolah, hingga imbauan penggunaan masker bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Robert Field, peneliti dari NASA Goddard Institute for Space Studies, menyebut situasi ini sangat mengerikan. Meskipun sebagian asap bisa terbawa ke lapisan atmosfer tinggi atau tersapu hujan, sebagian besar partikel polusi tetap tertahan di dekat permukaan tanah, sehingga kualitas udara tetap berada pada level berbahaya bagi kesehatan manusia.
Kekeringan ekstrem menjadi faktor utama yang memperparah keadaan. Di beberapa wilayah selatan Papua Nugini, hujan dilaporkan tidak turun selama lebih dari 90 hari berturut-turut. Curah hujan yang tercatat sejak Agustus hanya berkisar antara 5% hingga 10% dari kondisi normal.
Para peneliti menduga bahwa sebagian besar kebakaran ini dipicu oleh aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan untuk pertanian, pemeliharaan padang penggembalaan, hingga pembukaan hutan untuk perkebunan dan pertambangan. Dalam kondisi tanah yang sangat kering, api yang awalnya digunakan untuk keperluan skala kecil dengan cepat merambat menjadi kebakaran hutan yang tak terkendali.
Data dari Global Forest Watch juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, di mana Papua Indonesia kehilangan sekitar 27.000 hektare hutan primer pada tahun 2025. Angka ini meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya dan merupakan angka kehilangan hutan tertinggi sejak 2017. NASA memperkirakan ancaman kebakaran ini baru akan mereda setelah musim penghujan tiba di wilayah selatan Papua pada awal November mendatang.









Tinggalkan komentar