lintaswarta.co.id mengabarkan, sebuah tragedi memilukan terjadi di lokasi pengungsian pascagempa Nusa Tenggara Timur (NTT). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara resmi melaporkan bahwa sebanyak 94 jiwa pengungsi telah meninggal dunia saat berada di tempat penampungan sementara. Kabar duka ini sontak menimbulkan pertanyaan mengenai penyebab pasti kematian para penyintas bencana tersebut.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam sebuah konferensi pers daring pada Selasa lalu, menjelaskan perbedaan signifikan antara korban meninggal langsung akibat dampak gempa bumi dan mereka yang berpulang di pengungsian. "Korban meninggal secara langsung karena gempa bumi tercatat 48 orang, namun yang meninggal di pengungsian mencapai 94 orang," ungkap Berton, seperti dikutip lintaswarta.co.id dari kanal YouTube BNPB pada Kamis (17/9).
Berton kemudian menambahkan, melalui unggahan di akun Instagram BNPB pada Kamis, bahwa pihaknya bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah melakukan verifikasi dan validasi mendalam di tujuh kabupaten terdampak. Hasilnya, dipastikan bahwa ke-94 korban tersebut tidak meninggal akibat trauma fisik langsung atau runtuhan bangunan saat gempa terjadi. Penjelasan ini menepis spekulasi awal mengenai penyebab kematian.

Related Post
"Data dari tim medis menunjukkan bahwa sebagian besar warga yang berpulang adalah kelompok lansia yang meninggal dunia karena komplikasi penyakit kronis yang sudah diderita sebelumnya, seperti stroke dan diabetes melitus," terang Berton. Ia menegaskan bahwa penanganan medis telah dilaksanakan secara maksimal di berbagai fasilitas dan pos kesehatan terpadu.
Lebih lanjut, Berton memastikan pelayanan dasar dan kesehatan bagi para penyintas tetap terlaksana optimal. Sejak hari pertama, BNPB telah mengaktifkan pos dukungan logistik di Labuan Bajo dan Maumere. Bantuan medis, obat-obatan, termasuk peralatan lain yang dibutuhkan, terus bergerak menjangkau para pengungsi, baik di pusat penampungan maupun di lokasi mandiri. Upaya ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memastikan kesejahteraan dan kesehatan para korban gempa.







Tinggalkan komentar