Revolusi Pendingin! Freon Bakal Punah, Ini Penggantinya!

Harimurti

Revolusi Pendingin! Freon Bakal Punah, Ini Penggantinya!

Lintaswarta.co.id – Sebuah terobosan ilmiah yang menjanjikan telah mengguncang dunia teknologi pendingin. Para peneliti berhasil mengembangkan metode revolusioner yang berpotensi menggantikan bahan kimia berbahaya seperti hydrofluorocarbons (HFC), yang lebih dikenal luas sebagai freon, dalam sistem pendingin ruangan dan perangkat rumah tangga seperti kulkas dan AC. Penemuan ini membuka jalan bagi era baru pendinginan yang lebih aman dan ramah lingkungan.

Selama ini, industri pendingin sangat bergantung pada HFC, senyawa yang terbukti memiliki dampak signifikan terhadap pemanasan global. Sistem pendingin konvensional beroperasi dengan prinsip dasar pemindahan panas: cairan pendingin menyerap panas dari lingkungan, menguap menjadi gas, bersirkulasi dalam sistem tertutup, lalu terkondensasi kembali menjadi cairan untuk mengulang siklus. Namun, metode ini membawa konsekuensi lingkungan yang serius.

Revolusi Pendingin! Freon Bakal Punah, Ini Penggantinya!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti dari Lawrence Berkeley National Laboratory, University of California, Berkeley, telah merintis pendekatan fundamental yang berbeda. Mereka mengeksplorasi bagaimana energi dapat disimpan dan dilepaskan secara efisien ketika suatu material mengalami perubahan wujud, mirip dengan fenomena es yang mencair menjadi air dan menyerap panas dari sekitarnya.

COLLABMEDIANET

Kunci inovasi mereka terletak pada kemampuan untuk "mencairkan es" tanpa perlu menaikkan suhu. Para ilmuwan menemukan bahwa dengan menambahkan partikel bermuatan energi, atau yang dikenal sebagai ion, proses perubahan fase dapat dipicu. Konsep ini serupa dengan bagaimana garam digunakan untuk mencegah pembentukan es atau mencairkannya di jalanan saat musim dingin. Siklus perubahan wujud yang diinduksi oleh ion ini kemudian dinamakan "siklus ionokalori" (ionocaloric cycle).

"Hingga saat ini, belum ada solusi pendingin alternatif yang berhasil menggabungkan efisiensi tinggi, aspek keselamatan yang terjamin, dan dampak lingkungan yang minimal," ujar Drew Lilley, salah satu peneliti utama dari Lawrence Berkeley National Laboratory. "Kami sangat yakin bahwa siklus ionokalori memiliki potensi besar untuk memenuhi semua kriteria tersebut."

Dalam serangkaian uji coba awal, tim peneliti menggunakan campuran garam berbasis yodium dan natrium untuk memicu pencairan etilena karbonat. Menariknya, etilena karbonat adalah cairan yang juga berperan penting dalam baterai lithium-ion dan diproduksi dengan memanfaatkan karbon dioksida, menjadikannya pilihan yang tidak hanya nol emisi, melainkan berpotensi emisi negatif. Hasilnya sangat menjanjikan: perubahan suhu hingga 25 derajat Celcius berhasil dicapai hanya dengan input daya sebesar 1 volt.

Saat ini, fokus penelitian beralih pada pengembangan sistem praktis yang siap untuk aplikasi komersial. Salah satu tantangan utama adalah mengidentifikasi jenis "garam" yang paling efektif dalam menyerap panas dari lingkungan. Proyeksi menunjukkan bahwa pada tahun 2025, garam berbasis nitrat diyakini akan menjadi kandidat paling efisien untuk tujuan ini, membuka jalan bagi implementasi teknologi ionokalori dalam skala yang lebih luas.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar