Lintaswarta.co.id melaporkan, perkembangan pesat Islam dan dominasinya di wilayah Arab pada abad ke-6 Masehi ternyata tidak lepas dari faktor lingkungan ekstrem, yaitu kekeringan parah, serta gejolak politik dan peperangan yang melanda kala itu. Sebuah studi ilmiah terbaru mengungkap korelasi mengejutkan antara kondisi iklim dan penyebaran agama.
Penemuan menarik ini merupakan hasil analisis mendalam yang dilakukan oleh Dominik Fleitmann bersama tim penelitinya. Mereka meneliti lapisan stalagmit di Gua Al Hoota, Oman. Stalagmit sendiri adalah formasi batuan mineral yang terbentuk dari tetesan air hujan yang jatuh secara konsisten ke lantai gua, tumbuh ke atas seiring waktu dan menyimpan jejak kondisi iklim masa lalu.
Dari penelitian tersebut, terungkap adanya periode kekeringan ekstrem yang berlangsung selama beberapa dekade. Tim Fleitmann mengidentifikasi hal ini dari ukuran pertumbuhan batuan stalagmit yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan periode ketika curah hujan lebih tinggi.

Related Post
"Bahkan dengan mata telanjang sekalipun, kita bisa melihat pada stalagmit bahwa memang ada periode kekeringan yang berlangsung selama beberapa dekade," ungkap Fleitmann, seperti dikutip dari laporan ZME Science.
Untuk memperdalam temuan ini, tim peneliti kemudian melanjutkan dengan rekonstruksi iklim di wilayah tersebut. Mengingat penetapan periode kekeringan dari stalagmit hanya bisa mengidentifikasi rentang waktu yang relatif singkat, sekitar 30 tahun, mereka berkolaborasi dengan sejarawan dan arkeolog. Pendekatan multidisiplin ini melibatkan penelusuran sumber-sumber dan dokumen sejarah untuk mempersempit dan mengonfirmasi periode kekeringan ekstrem yang terjadi.
Salah satu fakta krusial yang terungkap dari riset ini adalah kondisi Kerajaan Himyar di Arab Selatan. Kerajaan yang dulunya merupakan kekuatan dominan dan beralih dari paganisme menuju kepercayaan monoteistik ini, justru dilanda kekeringan hebat bersamaan dengan kemunculan Islam. Situasi ini menciptakan kekacauan sosial dan politik, yang pada akhirnya membuka jalan bagi masuknya ajaran Islam.
"Kami berpendapat bahwa kekeringan parah semacam itu secara signifikan melemahkan ketahanan Kerajaan Himyar dan turut berkontribusi pada perubahan sosial radikal yang kemudian melahirkan Islam," jelas para peneliti.
Fleitmann menambahkan, ketika kekeringan dan berbagai masalah lainnya menerpa, penduduk kerajaan menghadapi penderitaan luar biasa. Di tengah krisis tersebut, Islam hadir menawarkan sesuatu yang baru, sebuah ajaran yang mampu menyatukan kembali masyarakat yang terpecah belah. "Penduduk saat itu dilanda kesulitan besar akibat kelaparan dan peperangan. Ini berarti Islam menemukan ‘lahan yang subur’: orang-orang mencari harapan baru, sesuatu yang dapat menyatukan mereka sebagai masyarakat. Agama baru inilah yang menawarkannya," pungkas Fleitmann.







Tinggalkan komentar