lintaswarta.co.id – Situasi keamanan di Myanmar kembali memanas dan memicu duka mendalam bagi warga sipil. Sebuah serangan udara yang dilancarkan oleh militer Myanmar menghantam sebuah pasar yang tengah ramai dikunjungi warga di wilayah barat negara tersebut. Insiden tragis ini mengakibatkan sedikitnya 50 orang dilaporkan tewas, sebuah angka yang terus membengkak seiring dengan proses evakuasi di lokasi kejadian.
Peristiwa memilukan ini terjadi di pusat perdagangan tepi sungai di Kota Kyauktaw, Negara Bagian Rakhine. Serangan udara tersebut terjadi tepat pada tengah hari saat aktivitas perdagangan sedang berada di puncaknya. Berdasarkan laporan dari pekerja bantuan lokal, jumlah korban jiwa yang semula diperkirakan hanya sekitar 30 orang, kini telah melonjak drastis setelah tim penyelamat melakukan penyisiran mendalam di reruntuhan dan area sekitar pasar.
Wai Hun Aung, seorang pekerja bantuan yang berada di lapangan, mengungkapkan bahwa selain korban jiwa yang mencapai 50 orang, sebanyak 58 lainnya mengalami luka-luka. Ia juga memberikan peringatan keras bahwa angka kematian kemungkinan besar akan terus bertambah. Hal ini disebabkan oleh banyaknya jenazah yang sulit ditemukan karena terbakar hebat dalam kebakaran besar yang menyusul jatuhnya bom, atau hilang tertimbun puing-puing bangunan.

Related Post
Kelompok pemberontak etnis Arakan Army (AA), yang saat ini memegang kendali atas wilayah tersebut, memberikan pernyataan serupa. Mereka menyebutkan bahwa para korban yang gugur adalah warga sipil yang tidak berdosa, mulai dari pedagang pasar, pembeli, pejalan kaki, hingga buruh angkut yang sedang mencari nafkah. Selain pasar, jembatan di dekat lokasi juga menjadi sasaran serangan udara tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak militer Myanmar belum memberikan pernyataan resmi maupun tanggapan terkait serangan yang menargetkan area sipil tersebut. Padahal, kawasan Kyauktaw merupakan salah satu urat nadi ekonomi penting karena letaknya yang berada di jalur perdagangan sungai menuju India.
Konflik berkecamuk di Myanmar sebenarnya telah mencapai titik kritis sejak kudeta militer pada tahun 2021. Negara bagian Rakhine menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak, di mana akses komunikasi dan bantuan seringkali terputus. Militer Myanmar yang berusaha mempertahankan sisa-sisa wilayah kekuasaannya kini sangat mengandalkan kekuatan udara dengan armada pesawat tempur produksi Rusia dan China.
Aksi militer yang menyasar fasilitas umum seperti sekolah, biara, dan pasar telah memicu kecaman internasional. Berbagai organisasi hak asasi manusia menilai serangan terhadap warga sipil ini berpotensi kuat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat dampak kemanusiaan yang sangat masif, di mana hampir 500.000 orang di Rakhine kini terpaksa hidup sebagai pengungsi akibat perang saudara yang tak kunjung usai.









Tinggalkan komentar