Menanti Pesona Hunter Moon di Langit Jakarta

Moch Divan

Menanti Pesona Hunter Moon di Langit Jakarta

lintaswarta.co.id – Langit Jakarta bersiap menyuguhkan pemandangan spektakuler dalam waktu dekat. Fenomena astronomi yang dikenal dengan sebutan Hunter’s Moon atau Bulan Pemburu diprediksi akan menghiasi cakrawala pada Senin malam, 26 Oktober 2026. Namun, sebelum para pecinta astronomi dapat menikmati keindahan tersebut, masyarakat perlu memperhatikan prakiraan cuaca terkini agar rencana pengamatan tidak terganggu oleh cuaca yang tidak menentu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis peringatan cuaca untuk wilayah DKI Jakarta pada Sabtu (24/10/2026). Secara umum, cuaca di ibu kota diprediksi akan didominasi oleh kondisi berawan hingga berawan tebal. Meski demikian, ada catatan khusus bagi warga yang tinggal di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur, karena potensi hujan diprediksi akan turun pada malam hari.

Menanti Pesona Hunter Moon di Langit Jakarta
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, memberikan penjelasan mendalam mengenai fenomena Hunter’s Moon. Ia menyebutkan bahwa secara fisik, tidak ada perbedaan mencolok antara Hunter’s Moon dengan fase bulan purnama pada umumnya. Keistimewaan fenomena ini terletak pada nilai sejarah dan latar belakang budayanya yang unik.

COLLABMEDIANET

"Fenomena Hunter’s Moon ini memiliki karakteristik budaya yang kuat. Nama ini berasal dari tradisi masyarakat adat Amerika, seperti suku Algonquian, serta pemukim awal di Eropa," ungkap Rahayu. Jika Harvest Moon identik dengan masa panen, maka Hunter’s Moon secara tradisional menandai dimulainya musim berburu untuk mengumpulkan stok makanan sebelum musim dingin tiba.

Bagi warga yang ingin mengamati fenomena ini, BMKG menyarankan waktu yang tepat. Bulan diperkirakan mulai muncul dari ufuk timur pada pukul 17.53 WIB dan mencapai titik tertingginya pada pukul 23.58 WIB. Rahayu mengingatkan bahwa saat baru terbit, bulan mungkin sulit terlihat karena posisinya yang rendah di cakrawala dan berisiko terhalang oleh gedung-gedung pencakar langit di Jakarta.

"Waktu paling ideal untuk mengamati adalah saat posisi bulan sudah cukup tinggi di langit, yakni mulai pukul 20.00 WIB. Fenomena ini sangat aman diamati langsung dengan mata telanjang tanpa perlu alat bantu khusus," tambahnya.

Terkait kondisi cuaca menjelang hari H, BMKG memetakan potensi hujan di beberapa titik. Di Jakarta Selatan, hujan dengan intensitas sedang diprediksi turun sekitar pukul 22.00 WIB dengan suhu udara mencapai 25 derajat Celcius. Sementara itu, Jakarta Timur berpotensi mengalami hujan ringan pada waktu yang hampir bersamaan. Untuk wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu, cuaca cenderung stabil dalam kondisi berawan hingga berawan tebal dengan suhu berkisar antara 25 hingga 34 derajat Celcius.

Selain cuaca, BMKG juga mengeluarkan peringatan penting bagi penduduk di wilayah pesisir. Mengingat posisi Matahari, Bumi, dan Bulan yang berada dalam satu garis lurus, gaya gravitasi akan meningkat dan memicu pasang purnama. Hal ini dapat menyebabkan kenaikan permukaan air laut yang lebih tinggi dari biasanya, sehingga masyarakat diminta mewaspadai potensi banjir rob.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar