Harga Batubara Terus Meroket Tajam

Moch Divan

Harga Batubara Terus Meroket Tajam

lintaswarta.co.id – Pasar energi global tengah menyaksikan tren positif yang konsisten pada komoditas batubara. Berdasarkan pantauan pasar terbaru, harga batubara Newcastle berhasil mencatatkan kenaikan selama empat pekan berturut-turut. Meskipun laju penguatan mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan, namun permintaan energi yang masif di kawasan Asia tetap menjadi motor utama yang menopang harga di level tinggi.

Pada penutupan perdagangan Jumat (23/10/2026), kontrak NCFMc2 ditutup pada level US$155 per ton, sedikit meningkat 0,26% dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya yang berada di angka US$154,60. Jika menilik pergerakan dalam sepekan, volatilitas harga sempat terlihat saat harga menyentuh US$156,05 pada hari Senin, sebelum akhirnya terkoreksi ke angka US$152,50 pada Rabu. Namun, aksi beli yang muncul setiap kali harga mengalami penurunan berhasil mendorong harga kembali pulih pada dua hari terakhir perdagangan.

Harga Batubara Terus Meroket Tajam
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Salah satu faktor krusial yang memicu ketahanan harga adalah kondisi krisis stok di India. Data terbaru menunjukkan bahwa persediaan batubara di pembangkit listrik India berada pada level kritis. Tercatat, 96 dari 191 pembangkit di negara tersebut memiliki cadangan yang sangat menipis per 19 Oktober, meningkat signifikan dibandingkan jumlah 60 pembangkit pada pertengahan September lalu. Saat ini, stok yang tersedia diperkirakan hanya cukup untuk menyokong operasional pembangkit selama kurang dari tiga hari.

COLLABMEDIANET

Kondisi ini diperparah oleh cuaca panas ekstrem yang memicu lonjakan kebutuhan listrik, sementara rendahnya curah hujan menyebabkan produksi pembangkit listrik tenaga air (hidro) menurun. Kondisi tersebut memaksa pembangkit listrik untuk kembali mengandalkan batubara. Meski demikian, pemerintah India tampak masih berupaya menekan impor karena tingginya harga internasional dan pelemahan nilai tukar rupee. Saat ini, India lebih memilih mengoptimalkan produksi domestik melalui Coal India guna menstabilkan pasokan.

Di sisi lain, dukungan permintaan juga datang dari negara-negara maju di Asia Timur. Laporan dari Fitch Ratings menyebutkan adanya tren peralihan penggunaan energi dari gas alam kembali ke batubara di Jepang dan Korea Selatan. Hal ini dipicu oleh ketidakpastian pasar energi di kawasan Timur Tengah. Selain itu, persiapan pengisian cadangan energi menjelang musim dingin di wilayah tersebut diprediksi akan terus menjaga permintaan batubara, khususnya jenis kalori tinggi, dalam beberapa bulan ke depan.

Sementara itu, dari sisi suplai global, Indonesia sebagai salah satu eksportir utama masih menghadapi berbagai tantangan teknis. Kendala cuaca berupa kekeringan yang menurunkan permukaan air di Sungai Barito menjadi hambatan serius bagi pengangkutan menggunakan tongkang. Dampaknya, ekspor batubara Indonesia melalui jalur laut pada September tercatat mengalami penurunan sebesar 18,1% secara tahunan. Ketidakpastian kuota produksi dan kebijakan ekspor domestik ini membuat ketersediaan pasokan ekspor menjadi sulit diprediksi oleh pasar global.

Meskipun gangguan pasokan dari Indonesia berpotensi mendorong harga internasional tetap tinggi, hal ini justru menjadi tantangan bagi produsen domestik karena meningkatnya biaya operasional. Di sisi lain, mata dunia kini menanti langkah China. Jika produksi tambang di China kembali pulih setelah melalui serangkaian pemeriksaan keselamatan, hal tersebut berpotensi meredakan tekanan pasokan dan membatasi laju kenaikan harga batubara di pasar global.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar