Lintaswarta.co.id – Jakarta. CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 yang digelar pada Selasa, 2 Februari 2026, menjadi forum penting untuk mengupas tuntas arah dan strategi menjaga momentum perekonomian Indonesia di tengah dinamika global, disrupsi teknologi, dan agenda keberlanjutan. Dalam acara bertajuk "Consolidating Growth, Accelerating the Transformation" ini, sejumlah pemimpin asosiasi industri menyoroti berbagai tantangan serius yang membayangi sektor riil, mulai dari ketergantungan bahan baku impor hingga beban regulasi yang kian memberatkan.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta Widjaja Kamdani, memaparkan bahwa momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) di penghujung 2025 menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang diperkirakan mencapai 5,11% (yoy) sepanjang tahun tersebut. Angka ini, meski di atas 5%, tidak serta merta mencerminkan kondisi ideal bagi dunia usaha. Shinta menyoroti perlambatan dan tekanan yang masih dialami sektor manufaktur, perkebunan, perikanan, jasa keuangan, real estat, hingga otomotif dan pertambangan. Ia menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi 2026 yang tidak hanya mencapai 5%, tetapi juga mampu memberikan ruang gerak bagi sektor riil. Tantangan daya saing menjadi krusial, menuntut penekanan pada "cost of doing business" atau beban operasional usaha, seperti biaya logistik, energi, dan suku bunga pinjaman yang tinggi. Selain itu, regulasi di Indonesia dan daya saing produk lokal di pasar global masih menjadi ganjalan.
Dari sektor otomotif, Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), Jongkie D. Sugiarto, mengungkapkan tekanan yang signifikan. Penjualan mobil sepanjang 2025 anjlok 7,2% menjadi 803.687 unit. Rendahnya daya beli masyarakat menjadi biang keladi, terutama untuk mobil dengan harga di atas Rp 300 juta. Industri berharap adanya insentif pemerintah untuk mendongkrak penjualan mobil di 2026, dengan target ambisius 850.000 unit.

Related Post
Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, melaporkan daya tahan industri Mamin yang mampu tumbuh 6,38% (yoy) di 2025. Namun, angka ini masih jauh di bawah capaian pra-pandemi yang bisa mencapai 7-9%. Adhi menyoroti persoalan krusial: ketergantungan pada bahan baku impor di tengah gejolak global yang tak menentu, yang sangat menyulitkan industri. Ia menambahkan, pertumbuhan industri hulu Mamin yang jauh lebih lambat dari industri hilir memperparah kondisi ini. Oleh karena itu, pengusaha mendesak pemerintah untuk memperkuat industri hulu Mamin guna menekan impor dan membuka lebih banyak lapangan kerja.
Chairman & Founder PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (IDX: KIJA), Setyono Djuandi Darmono, membahas peluang dan tantangan pengembangan kawasan industri di Indonesia. Untuk menarik investor asing, kawasan industri harus mampu menyediakan layanan setara dengan negara asal, meliputi jaminan keamanan, dukungan regulasi, serta infrastruktur memadai seperti lahan, gas, air, listrik, dan tenaga kerja. Setyono mencontohkan, kendala investasi seperti kenaikan harga tanah di Kawasan Industri Cikarang yang melonjak hingga 1.000 kali lipat dalam 30 tahun. Selain itu, biaya tenaga kerja yang mahal dan kualitas SDM yang belum mumpuni masih menjadi pertimbangan utama bagi investor untuk menanamkan modal di Indonesia.
Tekanan juga dirasakan industri rokok. Ketua Umum Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri), Henry Najoan, menyebutkan penurunan produksi dan kinerja akibat kenaikan tarif cukai yang mencapai 67% dalam lima tahun terakhir. Daya beli masyarakat yang lemah, kenaikan cukai, serta maraknya produksi rokok ilegal, menyebabkan penjualan rokok legal anjlok. Lebih lanjut, regulasi non-fiskal dari Kementerian Kesehatan melalui PP 28/2028 dan aturan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) terkait batasan tar dan nikotin, semakin memperbesar tekanan di industri ini.
Berbagai tantangan dan prospek sektor industri ini menjadi sorotan utama dalam dialog yang dipandu Syarifah Rahma, menghadirkan Setyono Djuandi Darmono, Shinta Widjaja Kamdani, Jongkie D. Sugiarto, Henry Najoan, dan Adhi S. Lukman dalam CNBC Indonesia Economic Outlook 2026. Diskusi ini menegaskan urgensi bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk bersinergi mencari solusi inovatif demi menjaga keberlanjutan dan daya saing industri nasional di tengah lanskap ekonomi yang terus berubah.









Tinggalkan komentar