Lintaswarta.co.id – Era ponsel pintar, atau yang akrab kita sebut HP, mungkin tak akan bertahan selamanya. Seiring laju inovasi teknologi yang kian pesat, masa depan perangkat yang kini menjadi pusat kehidupan modern kita mulai dipertanyakan. Dari mengakses informasi, berinteraksi sosial, hingga menikmati hiburan, HP telah menjadi perpanjangan tangan manusia. Namun, sinyal-sinyal "kiamat" HP sudah mulai bermunculan, digantikan oleh perangkat-perangkat cerdas yang lebih revolusioner.
Para visioner di balik raksasa teknologi Amerika Serikat telah lama meramalkan pergeseran ini. Mark Zuckerberg, CEO Meta, misalnya, memprediksi bahwa pada tahun 2030, fungsi HP akan sepenuhnya diambil alih oleh perangkat baru, kemungkinan besar berupa kacamata pintar (smart glasses) yang semakin multifungsi. Tak kalah berani, CEO SpaceX, Elon Musk, bahkan melontarkan gagasan yang lebih futuristik. Ia percaya bahwa pengganti HP bukanlah perangkat fisik eksternal, melainkan chip yang ditanam langsung di otak, melalui startup Neuralink miliknya. "Di masa depan tak ada lagi HP, hanya Neuralink," cuit Musk di platform X, menegaskan visinya tentang antarmuka otak-komputer (BCI).
Meskipun berbeda pandangan tentang bentuk penggantinya, Zuckerberg dan Musk sepakat bahwa era HP akan segera berakhir. Menariknya, perlombaan inovasi ini tidak hanya didominasi oleh industri teknologi AS. China, dengan kecepatan yang mengagumkan, telah menunjukkan taringnya dalam mengembangkan berbagai perangkat yang berpotensi menjadi suksesor HP.

Related Post
Alih-alih hanya berkoar-koar tentang masa depan, China justru lebih dulu bereksperimen dan bahkan menjual beragam inovasi perangkat yang digadang-gadang akan menggantikan HP. Keunggulan fundamental China terletak pada kekuatan manufakturnya yang solid, sebuah aset krusial dalam persaingan perangkat keras berbasis kecerdasan buatan (AI). "Saat ini kompetisi memang masih di sektor software, model, agen, aplikasi. Namun, persaingan akan segera beralih ke sektor perangkat," ujar Dr. Kai-Fu Lee, CEO 01.AI dan Kepala Sinovation Ventures, kepada CNBC International.
Sejak Meta memperkenalkan smart glasses pertamanya pada 2023 dan berhasil menjual jutaan unit, China tak tinggal diam. Lebih dari 70 perusahaan di Negeri Tirai Bambu kini berlomba menciptakan produk pesaing. Perangkat kacamata pintar berbasis AI dari perusahaan China seperti Inmo dan Rokid bahkan sudah merambah pasar global. Sementara itu, produk buatan Xiaomi dan Alibaba, meski saat ini masih fokus di pasar domestik China, juga marak beredar dan didukung oleh sistem AI masing-masing perusahaan.
Inovasi China tak berhenti pada kacamata pintar. DingTalk milik Alibaba, platform pesan singkat untuk dunia kerja, tahun ini meluncurkan perangkat AI seukuran kartu kredit bernama DingTalk A1. Alat ini dirancang untuk membantu pekerja mencatat hal-hal penting, mampu melakukan transkripsi, merangkum, hingga menganalisis percakapan dari jarak 8 meter, mirip dengan Plaud Note yang populer di AS. Selain itu, startup Le Le Gaoshang Education Technology merilis ‘Native Language Star’, sebuah perangkat penerjemah AI yang membantu orang tua mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak mereka. Didukung teknologi iFlyTek AI dari Tencent, perangkat ini memungkinkan orang tua dengan kemampuan bahasa Inggris minim untuk berbicara layaknya penutur asli.
Banyaknya perangkat berbasis AI yang kini menyasar kebutuhan spesifik di China menunjukkan tahap awal adopsi yang membuat masyarakat semakin terbiasa dengan teknologi ini. Fenomena ini juga mendorong perusahaan untuk terus mengumpulkan data berharga, yang pada gilirannya akan digunakan untuk menciptakan perangkat yang lebih canggih dan multifungsi di masa depan. "Ketika Anda mendengar orang di luar China berbicara terkait masa depan perangkat AI, pasarnya sudah tergarap di China," kata konsultan teknologi Tom van Dillen dari Greenkern. Ia menambahkan, ini menciptakan umpan balik yang positif untuk mengembangkan AI yang lebih canggih.
Kendati demikian, kemajuan pesat China dalam menciptakan perangkat AI ini belum serta-merta menjamin kemenangan mutlak atas AS. Jika China hanya "asyik sendiri" tanpa memperluas jangkauan ke pasar global, teknologi canggih tersebut berisiko hanya menjadi jago kandang. "China harus melakukan pendekatan seperti iPhone untuk benar-benar memenangkan perlombaan," saran Dr. Lee. Ia mengakui keuntungan China dalam membuat perangkat serupa iPhone di era AI, berkat kapabilitas lengkap mulai dari insinyur hingga pengusaha, namun tetap menekankan bahwa persaingan akan terus berlanjut.







Tinggalkan komentar