Lintaswarta.co.id – Kilau emas global meredup drastis dalam beberapa pekan terakhir. Harga logam mulia ini anjlok lebih dari 20% dari puncaknya di akhir Januari 2026, yang sempat menyentuh US$5.596 per troy ounce. Kini, harganya bergerak di kisaran US$4.400-an, sebuah penurunan mengejutkan yang justru terjadi di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian global yang seharusnya menjadi pendorong kenaikan emas. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa bank sentral dunia, yang sebelumnya menjadi pembeli utama, kini justru ramai-ramai mengobral cadangan emas mereka?
Data Refinitiv menunjukkan, pada perdagangan Jumat (27/3/2026), harga emas ditutup di US$4.492,48 per troy ons, meskipun sempat terbang 2,6% pada hari itu. Namun, secara keseluruhan, harga emas telah ambruk 15% sejak konflik global pecah pada 28 Februari 2026. Kondisi ini kontradiktif dengan sifat emas sebagai aset safe haven yang biasanya menguat saat krisis, memicu spekulasi mengenai faktor fundamental yang berubah.
Pergeseran fundamental terletak pada perilaku pelaku pasar, khususnya bank sentral. Selama tiga tahun terakhir hingga 2025, bank sentral merupakan pembeli emas terbesar di dunia, dengan rata-rata menyerap hampir 1.000 ton per tahun sejak 2022. Arus pembelian masif ini menjadi fondasi kuat bagi tren kenaikan harga emas. Namun, sejak awal 2026, arah tersebut berbalik. Pasar kini dibanjiri suplai dari institusi yang sebelumnya menjadi penopang utama.

Related Post
Menurut analisis Bullion Vault, pemicu utamanya adalah lonjakan harga energi. Gangguan pada jalur perdagangan minyak telah mendorong harga minyak di atas US$100 per barel. Negara-negara importir energi, terutama di pasar berkembang, membutuhkan lebih banyak dolar AS untuk membayar impor tersebut. Tekanan ini menyebabkan pelemahan mata uang domestik mereka. Dalam situasi genting ini, bank sentral dihadapkan pada pilihan sulit: membiarkan mata uang melemah atau menggunakan cadangan devisa untuk menstabilkannya. Emas, sebagai instrumen paling likuid setelah dolar AS, menjadi pilihan utama untuk dijual atau dijadikan jaminan demi memperoleh likuiditas.
Turki menjadi contoh paling nyata dari fenomena ini. Melansir Bloomberg, bank sentral Turki telah melepas sekitar 60 ton emas sejak konflik di Iran memanas, dengan nilai sekitar US$8 miliar. Langkah ini diambil untuk menahan laju pelemahan lira yang terus mencetak rekor terendah terhadap dolar AS. Sebagian transaksi bahkan dilakukan melalui skema swap menggunakan cadangan emas yang disimpan di Bank of England.
Rusia, di sisi lain, bergerak dengan motif yang berbeda. Bank sentralnya telah mulai menjual emas sejak 2025 untuk membiayai kebutuhan perang. Data terbaru menunjukkan cadangan emas Rusia turun ke level terendah dalam empat tahun terakhir, dengan nilai penjualan mencapai sekitar US$2,4 miliar sepanjang awal 2026. Penjualan ini menambah tekanan suplai yang bersifat konsisten di pasar global.
Meskipun belum melakukan penjualan langsung, Polandia telah mengirimkan sinyal kebijakan yang cukup menggerakkan pasar. Pernyataan pejabat bank sentral Polandia mengindikasikan pertimbangan untuk memonetisasi cadangan emas guna mendanai belanja pertahanan, dengan potensi dana sekitar US$13 miliar. Pasar merespons arah kebijakan ini sebagai potensi tambahan suplai, mengingat Polandia sebelumnya merupakan salah satu pembeli emas terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Secara keseluruhan, permintaan emas dari bank sentral memang mulai melemah. Porsinya turun di bawah 25% dari total permintaan global pada 2025, dari rata-rata sekitar 33% dalam tiga tahun sebelumnya. Meskipun angka ini masih tergolong tinggi secara historis, perubahan arah ini cukup untuk menggeser keseimbangan pasar. Penjualan oleh bank sentral bersifat tidak sensitif terhadap harga; mereka menjual untuk kebutuhan likuiditas dan stabilitas, bukan untuk mencari keuntungan. Dalam kondisi seperti ini, pasar kesulitan menyerap suplai tambahan, terutama ketika investor lain juga melakukan likuidasi, termasuk dari ETF emas yang mencatat arus keluar terbesar dalam lebih dari dua tahun.
Ke depan, arah harga emas akan sangat ditentukan oleh dua faktor utama yang sama: tekanan pada mata uang global dan fluktuasi harga energi. Analisis dari CNBC Indonesia Research menggarisbawahi pentingnya memantau dinamika ini untuk memahami pergerakan harga emas selanjutnya.
(Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia)









Tinggalkan komentar