Lintaswarta.co.id – Sebuah fenomena tak lazim terjadi di Seoul, Korea Selatan, dalam beberapa waktu terakhir. Bukan bahan bakar minyak atau kebutuhan pokok, melainkan kantong sampah yang mendadak menjadi buruan utama warga. Gelombang panic buying ini dipicu oleh kekhawatiran meluasnya konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu rantai pasokan global.
Data pemerintah kota Seoul menunjukkan lonjakan drastis penjualan kantong sampah harian, yang melonjak hampir lima kali lipat hingga mencapai sekitar 2,7 juta unit. Situasi ini memaksa beberapa peritel besar untuk memberlakukan pembatasan pembelian demi mencegah penimbunan dan memastikan ketersediaan bagi semua konsumen.
Menanggapi kekhawatiran publik, Menteri Energi Korea Selatan, Kim Sung-whan, segera mengeluarkan pernyataan menenangkan. Melalui media sosial, ia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik mengenai ketersediaan kantong sampah standar. "Pasokan kantong sampah standar tidak perlu dikhawatirkan," ujarnya. Kim Sung-whan menjelaskan bahwa bahan baku daur ulang yang menjadi dasar produksi kantong sampah masih sangat melimpah. "Kapasitas penggunaan bahan baku daur ulang kami sangat besar, yang berarti tidak akan ada masalah pasokan selama lebih dari satu tahun," tegasnya, sekaligus menjamin tidak akan ada kenaikan harga.

Related Post
Sebagai langkah antisipasi skenario terburuk, pemerintah bahkan mempertimbangkan untuk mengizinkan penggunaan kantong plastik biasa sebagai alternatif kantong sampah resmi. Perlu diketahui, di Korea Selatan, warga diwajibkan menggunakan kantong sampah khusus yang dijual oleh pemerintah setempat dan dilarang membuang sampah dengan kantong plastik biasa, seperti kantong belanja. "Anda tidak akan pernah berada dalam situasi di mana Anda terpaksa menyimpan sampah di rumah," imbuh Kim Sung-whan, menekankan komitmen pemerintah.
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Korea Selatan adalah salah satu importir minyak terbesar di dunia, di mana minyak mentah merupakan bahan baku krusial dalam produksi plastik. Mayoritas pasokan minyak Negeri Ginseng ini melintasi Selat Hormuz, sebuah jalur maritim strategis yang kini berada di bawah bayang-bayang konflik setelah Iran dilaporkan menutup akses menyusul eskalasi serangan dari Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari lalu.
Imbas dari situasi geopolitik ini telah mendorong pemerintah Korea Selatan untuk mengambil langkah-langkah drastis. Pembatasan harga bahan bakar diberlakukan untuk pertama kalinya sejak tahun 1997. Tak hanya itu, pemerintah juga mengalokasikan anggaran tambahan "masa perang" sebesar 25 triliun won, atau setara dengan sekitar Rp 270 triliun. Masyarakat pun diimbau untuk menghemat energi melalui berbagai cara, mulai dari mengurangi durasi mandi, beralih ke transportasi ramah lingkungan seperti berjalan kaki atau bersepeda, hingga mengisi daya perangkat elektronik pada siang hari.









Tinggalkan komentar