Lintaswarta.co.id, Purwokerto – Alun-alun Purwokerto menjadi saksi bisu gelombang protes yang digagas oleh massa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi se-Banyumas Raya akhir pekan ini. Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa biasa, melainkan sebuah mimbar bebas yang dikemas unik, lengkap dengan lapak baca buku gratis dan pasar baju bekas, sebagai bentuk kritik terhadap arah kebijakan pemerintah Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang dinilai keliru.
Dalam aksinya, mahasiswa bahkan menutup sebagian lajur Jalan Jenderal Soedirman, menarik perhatian publik. Kehadiran lapak baca dan pasar baju bekas gratis ini menjadi pembeda signifikan dari demonstrasi sebelumnya. Koordinator lapangan aksi, Setyawan, menjelaskan bahwa inisiatif ini adalah simbol bahwa keresahan terhadap pemerintahan saat ini tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa, tetapi juga telah meresap ke lapisan masyarakat luas.
Setyawan menegaskan bahwa aksi ini merupakan kelanjutan dari protes-protes sebelumnya, didorong oleh penilaian mahasiswa terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap telah menimbulkan persoalan serius di berbagai sektor, khususnya ekonomi. "Ini tindak lanjut dari eskalasi, kita merasakan bosannya dengan Prabowo-Gibran menjabat. Belum ada dua tahun, tetapi kerusakan yang dihasilkan sudah sangat besar. Kita melihat perekonomian Indonesia stagnan akibat kebijakan fiskal dan kebijakan terkait proyek strategis nasional yang menurut kami tidak sesuai," ujarnya kepada wartawan pada Jumat (26/6).

Related Post
Tujuan utama aksi ini adalah untuk terus menyuarakan kritik dan mendesak pemerintah agar segera mengubah arah kebijakannya. BEM Banyumas Raya membawa lima tuntutan krusial: menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG), menghentikan proyek Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta menegakkan kembali supremasi sipil dengan mengkritisi Undang-Undang TNI dan RUU Polri.
Pengemasan aksi yang berbeda ini, dengan panggung musik, pertunjukan teatrikal, lapak baca gratis, hingga pasar baju bekas gratis, sengaja dilakukan agar masyarakat dapat terlibat secara langsung. "Kita ingin mimbar bebas bukan hanya orasi, tapi juga ada mimbar kesenian. Itu bukti bahwa bukan hanya mahasiswa yang muak, tetapi masyarakat juga ikut merasakan hal yang sama," tambah Setyawan. Ia juga menyoroti bahwa peserta aksi tidak hanya mahasiswa berorganisasi, melainkan melebur dengan berbagai komunitas masyarakat dan organisasi seperti Aksi Kamisan Purwokerto, menunjukkan solidaritas yang kuat.









Tinggalkan komentar