lintaswarta.co.id, Jakarta – Kepala Posko Wilayah Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh, Safrizal ZA, baru saja kembali ke ibu kota setelah menuntaskan serangkaian agenda penting di Aceh. Di tengah kesibukannya memimpin diskusi, talkshow, dan rapat koordinasi penanganan bencana di Serambi Mekkah, kabar mengejutkan datang pada Sabtu (15/8): gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Tanpa menunda, Dirjen Bina Administrasi Wilayah (Bina Adwil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) ini segera bertolak ke lokasi bencana untuk mendampingi langsung proses peninjauan dan penanganan dampak gempa di lapangan.
Selama lima hari berada di Flores, Safrizal mencermati berbagai aspek penanganan bencana yang sedang berjalan. Ia menyaksikan bagaimana para pejabat publik di wilayah terdampak aktif mendengarkan keluh kesah para penyintas, menyalurkan tali asih kepada ahli waris dan warga yang terkena dampak, serta memberikan arahan strategis kepada kepala daerah setempat mengenai langkah-langkah darurat yang harus segera diimplementasikan.
"Sejak hari pertama gempa bumi melanda, negara telah hadir dan beraksi di lokasi bencana. Pemerintah pusat tidak berdiam diri. Ini adalah bukti nyata bahwa warga tidak sendirian dalam menghadapi musibah ini," tegas Safrizal, menggarisbawahi komitmen pemerintah.

Related Post
Salah satu poin krusial yang ditekankan Safrizal adalah pentingnya proses pendataan kerusakan rumah warga. Data ini menjadi prasyarat mutlak sebelum bantuan pemerintah dapat disalurkan secara efektif. Ia menjelaskan bahwa pendataan harus dilakukan secara berjenjang, dimulai dari tingkat desa, kemudian direkapitulasi dan diverifikasi oleh pemerintah kabupaten. "Pendataan kerusakan rumah dimulai dari desa. Nanti desa melaporkan kepada Bupati, yang kemudian akan merekap rumah mana saja yang mengalami kerusakan ringan, sedang, atau berat," jelasnya.
Kecepatan penyaluran bantuan, lanjut Safrizal, sangat bergantung pada kelengkapan dan akurasi data tersebut, termasuk verifikasi serta penandatanganan oleh aparat penegak hukum setempat seperti Kapolres dan Kajari. Berdasarkan pengamatan di lapangan, bantuan rekonstruksi rumah dibagi berdasarkan tingkat kerusakan: Rp15 juta untuk rusak ringan, Rp30 juta untuk rusak sedang, dan Rp70 juta untuk rusak berat.
Safrizal juga menyoroti urgensi sinergi dari seluruh elemen, mulai dari kepala desa hingga perangkat kecamatan, agar proses pendataan ini dapat dipercepat. Dalam kunjungannya ke Pos Komando Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik yang dikelola Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka, ia memberikan apresiasi tinggi atas pengelolaan posko yang solid dan komprehensif dalam menyajikan data kebencanaan. "Pengelolaan posko yang kuat dan data yang terintegrasi adalah kunci respons cepat tanggap darurat. Kami mendorong BPBD dan seluruh unsur Forkopimda di Sikka untuk menjaga koordinasi ini, sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi gempa susulan," pungkasnya.
Dari pengalaman panjangnya dalam menangani wilayah pascabencana, Safrizal menyimpulkan bahwa kehadiran cepat pemerintah di lokasi bencana adalah kunci utama untuk menunjukkan keberpihakan negara kepada masyarakat yang sedang dalam kesulitan, sekaligus mempercepat proses pemulihan di lapangan.









Tinggalkan komentar