Listrik Padam Tapi Tagihan Malah Meroket

Harimurti

Listrik Padam Tapi Tagihan Malah Meroket

lintaswarta.co.id – Kondisi ironis tengah menyelimuti warga Kota Lapu-Lapu, Filipina. Di saat masyarakat harus bergelut dengan jadwal pemadaman listrik bergilir yang tak menentu, mereka justru dikejutkan dengan lonjakan tagihan listrik yang kian mencekik kantong. Fenomena ini memicu kemarahan publik dan desakan keras dari pemerintah setempat terhadap otoritas penyedia energi.

Krisis pasokan listrik yang melanda wilayah tersebut telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Berdasarkan laporan terbaru, pemadaman listrik yang terjadi secara berulang bukan lagi sekadar gangguan teknis biasa, melainkan indikasi adanya kegagalan sistemik dalam pemenuhan kebutuhan daya. Menanggapi situasi darurat ini, Dewan Kota Lapu-Lapu mengambil langkah tegas dengan memanggil tiga raksasa penyedia energi untuk memberikan pertanggungjawaban.

Listrik Padam Tapi Tagihan Malah Meroket
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Ketiga lembaga yang dipanggil tersebut adalah National Grid Corp of the Philippines (NGCP), Komisi Pengaturan Energi (ERC), dan Mactan Electric Co. (MECO). Dalam sesi tanya jawab yang dipimpin oleh Wakil Wali Kota Lapu-Lapu, Celedonio Sitoy, terungkap fakta pahit bahwa tidak ada kepastian kapan krisis ini akan berakhir.

COLLABMEDIANET

Sitoy mengungkapkan bahwa pihak NGCP tidak mampu memberikan estimasi waktu yang jelas mengenai kapan pasokan listrik akan kembali stabil. Masalah utamanya terletak pada kapasitas pembangkitan yang sangat minim dan tidak memadai untuk menopang kebutuhan warga. Bahkan, beberapa unit pembangkit listrik dilaporkan mengalami kerusakan fatal yang tidak dapat diperbaiki lagi.

"Masalahnya sangat mendasar, yaitu kekurangan daya pembangkitan. Kami membutuhkan tambahan kapasitas dalam jumlah besar untuk menutup kesenjangan ini," ujar Sitoy dalam keterangannya. Ia bahkan memprediksi bahwa kondisi suram ini bisa terus menghantui warga hingga lebih dari dua bulan ke depan.

Krisis ini diperparah dengan kondisi jaringan listrik di wilayah Visayas yang terus berada dalam status siaga kuning hingga siaga merah. Penurunan kapasitas produksi listrik lokal serta keterbatasan pasokan impor dari wilayah Mindanao membuat stabilitas energi di kota tersebut sangat rapuh. Sebagai gambaran, pada akhir September lalu, kapasitas listrik yang tersedia sangat mepet dengan proyeksi beban puncak, sehingga risiko pemadaman menjadi sangat tinggi.

Namun, yang paling memicu kemarahan warga adalah fakta bahwa di tengah kegelapan yang sering melanda, biaya yang harus dibayarkan justru meningkat. MECO, selaku operator distribusi, dituding membebankan biaya ekstra kepada pelanggan. Pihak MECO berdalih bahwa kenaikan tersebut di luar kendali mereka, karena mereka hanya bertindak sebagai distributor. Biaya tambahan tersebut diklaim berasal dari pembayaran kepada pemasok daya, biaya transmisi NGCP, hingga biaya layanan cadangan untuk menjaga stabilitas jaringan.

Menanggapi ketidakadilan ini, Dewan Kota Lapu-Lapu telah mengeluarkan serangkaian resolusi penting. Mereka mendesak Departemen Energi (DOE) dan ERC untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap biaya langganan dan prosedur penagihan yang dilakukan oleh MECO. Selain itu, pemerintah kota juga mewajibkan penyedia layanan untuk memberikan jadwal pemadaman yang transparan agar masyarakat dapat melakukan antisipasi.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar