Satelit Mata-Mata AS Meledak di Orbit

Harimurti

Satelit Mata-Mata AS Meledak di Orbit

lintaswarta.co.id – Dunia antariksa dikejutkan oleh sebuah insiden tak terduga yang melibatkan aset intelijen milik Amerika Serikat. Sebuah satelit mata-mata milik Amerika Serikat dilaporkan mengalami kegagalan fungsi yang mengakibatkan satelit tersebut pecah menjadi serpihan di orbit rendah Bumi atau low-Earth orbit (LEO). Peristiwa ini memicu kewaspadaan tinggi bagi otoritas keamanan antariksa dunia.

Berdasarkan data yang dihimpun, sistem pelacakan milik U.S. Space Force telah mengonfirmasi bahwa satelit yang secara resmi terdaftar dengan nama USA-32 tersebut mengalami fragmentasi pada 13 September, tepatnya pukul 17.13 waktu Eastern Time (ET). Fenomena ini dalam istilah teknis kedirgantaraan disebut sebagai fragmentation event, sebuah kondisi di mana sebuah objek di luar angkasa tiba-tiba hancur dan terurai menjadi ribuan potongan kecil.

Satelit Mata-Mata AS Meledak di Orbit
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Hingga saat ini, penyebab pasti di balik hancurnya USA-32 masih menjadi misteri besar. Pihak Space Force menyatakan bahwa mereka terus melakukan pemantauan intensif terhadap pergerakan puing-puing yang dihasilkan dari ledakan tersebut. Meski saat ini belum ditemukan ancaman langsung terhadap pesawat antariksa lain yang sedang melintas, keberadaan awan puing ini tetap menjadi perhatian serius. Puing-puing tersebut berpotensi menjadi ancaman jangka panjang bagi satelit aktif maupun objek lain yang melintasi orbit Bumi.

COLLABMEDIANET

Jika menilik sejarahnya, USA-32 bukanlah satelit biasa. Ia merupakan aset intelijen legendaris yang telah beroperasi sejak era Perang Dingin. Satelit ini diluncurkan pada 5 September 1988 dengan menggunakan roket Titan II SLV. Misi utamanya sangat rahasia, yakni menjalankan program spionase berbasis antariksa di bawah naungan National Reconnaissance Office (NRO) untuk kepentingan militer Amerika Serikat.

Satelit ini merupakan bagian dari rangkaian program rahasia yang dikenal dengan nama FARRAH III. Menariknya, satelit ini memiliki karakteristik fisik yang unik dibandingkan pendahulunya. Jika satelit seri FARRAH sebelumnya berbentuk kotak dan berukuran kecil, FARRAH III memiliki bentuk silinder besar yang menyerupai kaleng tuna. Desain khusus ini bertujuan agar satelit mampu menangkap emisi frekuensi radio, termasuk berbagai sinyal komunikasi dan elektronik lainnya.

Dokumen yang telah dideklasifikasi oleh NRO sebelumnya mengungkap bahwa misi utama program FARRAH adalah untuk menyadap emisi radar Uni Soviet serta mengumpulkan sinyal dalam rentang frekuensi 2 hingga 18 GHz. Meskipun masa operasional aktifnya tidak diketahui secara pasti, catatan dari The Space Review menyebutkan bahwa satelit ini masih terpantau masih berada di orbit hingga tahun 2021.

Pasca insiden ledakan ini, perusahaan pelacak satelit swasta, s2a systems, melaporkan telah mendeteksi sejumlah serpihan yang kini tersebar luas di orbit rendah Bumi. Kejadian ini menambah daftar panjang risiko sampah antariksa yang kian kompleks dan menantang bagi keamanan navigasi luar angkasa global.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar