Geger! Alibaba PHK Massal, Laba Anjlok 67%, Banting Setir ke AI
Lintaswarta.co.id – Raksasa e-commerce asal China, Alibaba Group, tengah menjadi sorotan tajam setelah mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang signifikan, memangkas jumlah karyawannya hingga 34% sepanjang tahun 2025. Langkah drastis ini datang seiring dengan anjloknya laba perusahaan sebesar 67% dan kegagalan mencapai target pendapatan, mendorong Alibaba untuk sepenuhnya berinvestasi pada bisnis kecerdasan buatan (AI).
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis pada Kamis (19/3/2026), jumlah karyawan Alibaba per Desember tercatat 128.197 orang, jauh menurun dari 194.320 orang pada tahun sebelumnya. Penurunan drastis ini sebagian besar terjadi pada kuartal pertama 2025, menyusul pelepasan beberapa bisnis ritel offline-nya, termasuk penjualan grup ritel Sun Art pada akhir 2024 dan divestasi kepemilikan di jaringan department store Intime pada periode yang sama.

Related Post
Laporan tersebut juga mengungkap performa finansial yang mengecewakan, dengan laba perusahaan yang anjlok tajam 67% dan pendapatan yang meleset dari ekspektasi pasar. Akibatnya, saham Alibaba di bursa Hong Kong langsung merosot 6% pada perdagangan Jumat (20/3/2026), mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kondisi perusahaan.
Fenomena PHK massal ini bukanlah hal baru di dunia teknologi. Alibaba bergabung dengan deretan perusahaan teknologi global lainnya, dari Silicon Valley hingga Hangzhou, Tiongkok, yang telah melakukan pengurangan karyawan dalam setahun terakhir. Meskipun Alibaba telah secara bertahap mengurangi jumlah karyawannya dalam beberapa tahun terakhir, pemangkasan terbaru ini jauh lebih besar dibandingkan pengurangan 11% pada Desember 2024 dari tahun sebelumnya.
Pergeseran strategis Alibaba sangat jelas. Perusahaan berupaya melepaskan aset-aset yang padat karya dan merestrukturisasi bisnis intinya, dengan fokus utama pada pengembangan AI. Raksasa teknologi ini kini memiliki ambisi besar untuk bertransformasi menjadi perusahaan AI yang komprehensif, mencakup manufaktur semikonduktor hingga komputasi dan pengembangan model AI.
Komitmen Alibaba terhadap AI semakin nyata dengan peluncuran layanan AI berbasis agen bernama Wukong untuk segmen bisnis pada minggu ini. Selain itu, perusahaan juga menaikkan harga layanan cloud dan penyimpanannya hingga 34%, sebagai respons terhadap peningkatan permintaan dan biaya rantai pasokan yang terus meningkat.
CEO Alibaba, Eddie Wu, dalam konferensi pendapatan pada Kamis lalu, menegaskan visi perusahaan untuk masa depan. Ia menargetkan peningkatan pendapatan dari bisnis cloud dan AI hingga lebih dari US$100 miliar per tahun dalam lima tahun ke depan, menunjukkan betapa sentralnya peran AI dalam strategi pertumbuhan Alibaba ke depan. Langkah ini menandai era baru bagi Alibaba, di mana fokus pada inovasi AI diharapkan dapat mengimbangi tantangan di sektor e-commerce tradisional dan mengembalikan kejayaan finansial perusahaan.









Tinggalkan komentar