Ancaman Nyata Kehidupan Cermin di Bumi

Harimurti

Ancaman Nyata Kehidupan Cermin di Bumi

lintaswarta.co.id – Dunia sains internasional kini tengah menyoroti sebuah fenomena yang terdengar seperti fiksi ilmiah, namun menyimpan risiko nyata bagi keberlangsungan ekosistem global. Fenomena tersebut adalah riset mengenai "mirror life" atau kehidupan cermin, yakni penciptaan organisme sintetis yang memiliki struktur biokimia berlawanan dengan makhluk hidup yang ada di Bumi.

Peringatan serius ini muncul dalam ajang Singapore Conference on Mirror Life yang berlangsung pekan ini. Para ahli biologi dari berbagai negara menyatakan kekhawatiran mendalam bahwa jika organisme sintetis ini tidak sengaja terlepas dari laboratorium, mereka dapat memicu wabah yang mustahil untuk dihentikan atau merusak tatanan ekosistem secara permanen.

Ancaman Nyata Kehidupan Cermin di Bumi
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Secara teknis, kehidupan di Bumi sangat bergantung pada konsep kiralitas, yaitu sifat molekul yang memiliki bentuk serupa tangan kanan dan tangan kiri. Sebagian besar asam amino penyusun protein pada makhluk hidup bersifat "kidal", sementara gula yang menjadi komponen utama DNA dan RNA bersifat "kanan". Kehidupan cermin berarti menciptakan sel, kemungkinan besar berupa bakteri, yang dibangun dengan struktur molekul yang sepenuhnya terbalik dari standar biologis Bumi.

COLLABMEDIANET

Risiko terbesar terletak pada kemampuan adaptasi organisme ini. Berdasarkan laporan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Science pada akhir 2024, bakteri cermin diprediksi akan menjadi "super-organisme" yang tidak tersentuh oleh sistem pertahanan alami. Karena struktur molekulnya berbeda, sistem imun manusia tidak akan mengenali mereka sebagai ancaman. Selain itu, mereka diperkirakan kebal terhadap predator alami seperti amuba serta virus pemakan bakteri (bakteriofage) yang selama ini berfungsi sebagai pengendali populasi bakteri di alam.

Deepa Agashe, seorang ahli ekologi dari National Centre for Biological Sciences di India, memberikan peringatan keras mengenai potensi ledakan populasi ini. Ia mengibaratkan risiko ini seperti invasi spesies asing, seperti kodok tebu di Australia, yang merajalela karena tidak memiliki predator alami. Sekali mereka masuk ke ekosistem, mereka hampir mustahil untuk dimusnahkan sepenuhnya.

Meskipun teknologi ini diprediksi masih membutuhkan waktu sekitar 15 tahun lagi, pesatnya perkembangan biologi sintetis yang dibantu oleh kecerdasan buatan (AI) membuat garis waktu tersebut bisa menjadi jauh lebih cepat. George Church dari Harvard Medical School mencatat adanya kemajuan signifikan, seperti keberhasilan menciptakan sel sintetis yang mampu makan, tumbuh, dan membelah diri, serta kemampuan memodifikasi sel untuk menyusun protein dengan asam amino nonstandar.

Alasan utama para ilmuwan melakukan riset ini adalah untuk memuaskan rasa ingin tahu ilmiah serta potensi medis, seperti menciptakan obat-obatan yang lebih tahan lama di dalam tubuh manusia. Namun, di tengah ambisi ilmiah tersebut, otoritas di Amerika Serikat, Inggris, hingga Jerman mulai bersikap waspada. Bahkan, Dewan Penasihat Ilmiah Sekretaris Jenderal PBB telah mengeluarkan ringkasan mengenai risiko besar yang mungkin ditimbulkan oleh teknologi ini bagi masa depan kehidupan di Bumi.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar