AS Ketar-ketir Lawan Drone Iran: Tak Sanggup Hadapi!

Harimurti

Lintaswarta.co.id melaporkan, sebuah pengarahan tertutup di Capitol Hill pada Selasa waktu setempat telah mengungkap pengakuan mengejutkan dari pejabat tinggi militer Amerika Serikat. Mereka secara terbuka menyatakan bahwa militer AS kemungkinan besar tidak akan mampu menembak jatuh setiap drone yang diluncurkan Iran dalam skenario serangan balasan, sebuah kerentanan yang menyoroti tantangan baru dalam pertahanan negara adidaya tersebut.

Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan, bersama para pejabat lainnya, menjelaskan kepada anggota parlemen bahwa Iran telah mengerahkan ribuan drone serang sekali jalan. Meskipun militer AS memiliki kapasitas untuk menjatuhkan sebagian besar ancaman udara tersebut, mereka mengakui bahwa menghadapi rentetan serangan masif ini secara keseluruhan akan menjadi tugas yang mustahil, berpotensi membahayakan instalasi dan aset militer AS.

AS Ketar-ketir Lawan Drone Iran: Tak Sanggup Hadapi!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menyikapi ancaman ini, fokus utama strategi AS kini bergeser drastis. Daripada mengandalkan sepenuhnya pada pencegatan, prioritas utama kini adalah menghancurkan lokasi peluncuran drone dan rudal konvensional Iran secepat mungkin. Informasi ini, yang disampaikan oleh sumber anonim karena sensitivitas detailnya, mengindikasikan perubahan taktik yang mendalam dalam menghadapi ancaman asimetris.

COLLABMEDIANET

Drone Shahed Iran, yang berbiaya rendah dan dirancang untuk sekali pakai, menjadi kunci strategi Teheran. Dengan kemampuan terbang rendah dan lambat, drone-drone ini terbukti lebih efektif dalam menghindari sistem pertahanan udara konvensional yang canggih seperti Patriot dan THAAD, dibandingkan dengan rudal balistik. Seorang pejabat senior pemerintahan menyebut strategi Iran ini sebagai upaya untuk memaksa AS mengorbankan pencegat canggihnya, meskipun AS mengklaim telah berhasil menjatuhkan drone tersebut dengan berbagai metode.

Namun, kekhawatiran mendalam tetap menyelimuti Kongres. Sejumlah petinggi Demokrat menyuarakan keprihatinan bahwa AS telah menghabiskan terlalu banyak stok pencegat untuk bertahan dari serangan rudal balistik Iran. Jenderal Caine, meskipun secara internal mengakui kekhawatiran tersebut, di depan publik tetap menunjukkan keyakinannya terhadap ketersediaan amunisi. "Kami memiliki amunisi presisi yang cukup untuk tugas yang sedang dihadapi, baik untuk serangan maupun pertahanan," tegas Caine dalam konferensi pers di Pentagon, seperti dikutip The Guardian.

Intensitas penggunaan senjata ini memakan biaya yang sangat fantastis. Pada hari-hari awal konflik, AS diperkirakan menghabiskan sekitar US$2 miliar atau hampir Rp34 triliun per hari, meskipun angka tersebut kini telah menurun menjadi sekitar US$1 miliar dan diproyeksikan akan terus berkurang seiring berlanjutnya konflik.

Di tengah situasi yang memanas ini, mantan Presiden Donald Trump turut berkomentar melalui media sosial. Pada Senin malam, ia menulis bahwa AS dapat mempertahankan tingkat penggunaan senjata tersebut tanpa batas waktu, mengklaim stok amunisi kelas menengah dan menengah atas militer AS "praktis tidak terbatas," meskipun ia mengakui adanya kekurangan pada senjata di level tertinggi.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan dalam pengarahan pers hari Rabu bahwa AS memiliki lebih dari cukup senjata untuk melakukan perang berkepanjangan dengan Iran. Ia juga mengklaim bahwa unggahan Trump tersebut sebenarnya adalah kritik terhadap keputusan pemerintahan Biden sebelumnya yang mengirimkan senjata ke Ukraina. "Kami memiliki cadangan senjata di tempat-tempat yang bahkan tidak diketahui oleh banyak orang di dunia ini," tegas Leavitt, menambahkan bahwa Presiden ingin menunjukkan adanya "pemimpin yang sangat bodoh dan tidak kompeten" di Gedung Putih selama empat tahun yang memberikan banyak senjata terbaik AS secara cuma-cuma.

Baik Gedung Putih maupun juru bicara Kepala Staf Gabungan menolak berkomentar lebih lanjut mengenai detail operasional, dengan alasan keamanan yang sedang berlangsung. Situasi ini menggarisbawahi tantangan kompleks dan mahal yang dihadapi militer AS dalam menghadapi evolusi ancaman drone modern.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar