lintaswarta.co.id – Persaingan internal di lini pertahanan Brighton & Hove Albion kini memasuki babak baru yang sangat menarik untuk disimak. Setelah kemenangan telak 3-0 atas Arsenal, sorotan tajam tertuju pada performa impresif Pascal Struijk yang seolah memberikan sinyal ancaman nyata bagi posisi kapten tim, Lewis Dunk. Fenomena ini menciptakan dilema taktis bagi manajemen pelatih dalam menentukan susunan pemain terbaik mereka.
Brighton saat ini sebenarnya sedang berada dalam posisi yang unik. Mereka tidak sedang mengalami krisis pemain bertahan, melainkan justru mengalami "masalah" karena memiliki terlalu banyak opsi bek tengah berkualitas tinggi. Meskipun nama Michael Svoboda sempat muncul dalam diskusi skuad, namun fokus utama saat ini sepenuhnya tertuju pada duel dua raksasa lini belakang: sang legenda Lewis Dunk melawan pendatang baru yang sedang naik daun, Pascal Struijk.
Lewis Dunk telah menjadi simbol kesetiaan dan kekuatan Brighton sejak debutnya pada tahun 2010. Bek berusia 35 tahun ini telah melewati perjalanan panjang bersama The Seagulls, mulai dari kasta League One hingga akhirnya mampu bersaing di kompetisi elit Eropa. Meski sempat mengalami pasang surut performa dalam beberapa musim terakhir, Dunk selalu berhasil membuktikan kelasnya melalui kepemimpinan yang kuat, kecerdasan membaca permainan, serta keberanian di lapangan. Musim ini, Dunk hampir selalu menjadi pilihan utama dalam starting eleven, kecuali dalam satu laga krusial.

Related Post
Laga yang absen dari daftar starting eleven Dunk adalah saat Brighton menghancurkan Arsenal dengan skor mencolok 3-0. Di pertandingan itulah, Pascal Struijk tampil bak tembok kokoh yang nyaris tanpa celah. Bek asal Belanda yang memiliki garis keturunan Indonesia dari kakek dan neneknya asal Surabaya ini menunjukkan profil permainan yang sangat berbeda dengan Dunk.
Jika Dunk mengandalkan pengalaman dan posisi, Struijk menawarkan mobilitas tinggi dan atribut atletis yang luar biasa. Ia adalah tipe bek modern yang tidak hanya jago bertahan, tetapi juga sangat mahir dalam membawa bola keluar dari area pertahanan. Kemampuan tracking atau mengejar pergerakan lawan juga menjadi keunggulan utamanya. Hal ini terbukti saat ia berhasil meredam pergerakan Kai Havertz yang sangat lincah, dengan menutup ruang gerak penyerang Arsenal tersebut secara efektif.
Struijk sendiri merupakan investasi besar Brighton setelah didatangkan dari Leeds United pada musim panas lalu dengan nilai transfer mencapai Rp400 miliar. Setelah menunjukkan performa solid saat menghadapi Manchester United dan kemudian tampil sensasional melawan Arsenal, posisi Struijk di tim utama kini semakin sulit digoyahkan.
Namun, jeda internasional kini menjadi ujian bagi stabilitas posisi Struijk. Dengan kembalinya Lewis Dunk ke dalam skuad setelah absen sekitar satu bulan, pelatih Brighton dihadapkan pada pilihan sulit. Mengingat keterbatasan slot pemain, Brighton tidak bisa memainkan semua bek terbaiknya secara bersamaan. Persaingan sehat antara pengalaman Dunk dan modernitas Struijk diprediksi akan menjadi bumbu penyedap dalam strategi pertahanan Brighton musim ini.









Tinggalkan komentar