Dulu Diinjak, Kini Jadi Primadona Ekspor Indonesia!

Harimurti

Dulu Diinjak, Kini Jadi Primadona Ekspor Indonesia!

Lintaswarta.co.id melaporkan, siapa sangka, benda yang kerap diinjak dan dianggap remeh ini ternyata menjadi komoditas ekspor bernilai miliaran rupiah bagi Indonesia. Batu kerikil, yang dalam percakapan sehari-hari sering menjadi metafora untuk masalah sepele, justru mendatangkan devisa signifikan dari pasar global.

Secara geologis, kerikil terbentuk melalui proses pelapukan alami batuan induk besar seperti granit atau basalt yang mengalami penghancuran akibat cuaca. Selain itu, ia juga bisa dihasilkan secara artifisial melalui pemecahan batuan di pertambangan menjadi ukuran kecil, yang kemudian dimanfaatkan untuk berbagai keperluan konstruksi. Transformasi dari benda biasa menjadi komoditas strategis ini menunjukkan potensi ekonomi yang sering terabaikan.

Dulu Diinjak, Kini Jadi Primadona Ekspor Indonesia!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam "Analisis Komoditas Ekspor tahun 2020-2024", nilai ekspor batu kerikil Indonesia pada tahun 2024 mencapai angka fantastis US$55,3 juta, atau setara dengan sekitar Rp 900 miliar (dengan kurs US$1 = Rp 16.285). Angka ini bukan sekadar lonjakan sesaat; data historis lima tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan yang relatif stabil. Secara keseluruhan, berat ekspor kerikil konsisten di atas 8 juta ton per tahun, menegaskan posisinya sebagai salah satu bahan galian bukan logam andalan Tanah Air di pasar internasional.

COLLABMEDIANET

Destinasi utama ekspor kerikil Indonesia meliputi negara-negara dengan kebutuhan reklamasi dan pengembangan infrastruktur pesisir yang tinggi, seperti Singapura, Korea Selatan, Amerika Serikat, Taiwan, dan Jepang. Singapura menjadi mitra terbesar, mendominasi 94,05% dari total ekspor kerikil pada tahun 2024 dengan nilai mencapai US$52,0 juta. Angka ini merupakan peningkatan sebesar 3,47% dibandingkan tahun sebelumnya, menggarisbawahi peran vital Indonesia dalam memenuhi keterbatasan lahan dan sumber daya mineral di negara tetangga tersebut.

Dari sisi provinsi asal, Kepulauan Riau tampil sebagai tulang punggung ekspor batu kerikil nasional. Provinsi ini menyumbang hampir seluruhnya, yakni 93,75% dari total nilai ekspor kerikil Indonesia pada tahun 2024. Berat ekspor dari Kepulauan Riau tercatat sebesar 7,982 juta ton, naik 4,41% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan volume ini juga diikuti oleh peningkatan nilai ekspor sebesar 3,39%, dari sebelumnya US$50,2 juta menjadi US$51,9 juta.

Namun, tidak semua provinsi menunjukkan kinerja yang serupa. Beberapa daerah justru mengalami penurunan. Nusa Tenggara Timur, misalnya, mencatat penurunan berat ekspor sebesar 20,46% menjadi 13,1 ribu ton, dengan nilai ekspor menyusut 26,32% menjadi US$2,0 juta. Penurunan serupa juga terjadi di Jawa Timur, di mana berat ekspor anjlok 40,18% menjadi 10,0 ribu ton, dan nilai ekspornya menyusut 37,58% menjadi US$1,3 juta.

Fenomena ekspor kerikil ini membuktikan bahwa potensi ekonomi bisa datang dari hal-hal yang tak terduga. Meskipun sering dianggap sepele, batu kerikil telah menjadi pilar penting dalam mendulang devisa negara dan memenuhi kebutuhan infrastruktur global, menjadikannya harta karun tersembunyi yang terus mengalirkan keuntungan bagi Indonesia.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar