Ekonomi Indonesia Lebih Tangguh dari AS dan Jepang

Harimurti

Ekonomi Indonesia Lebih Tangguh dari AS dan Jepang

lintaswarta.co.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto, memberikan pernyataan mengejutkan sekaligus membanggakan mengenai ketahanan ekonomi nasional. Dalam sebuah forum internasional, ia mengungkapkan bahwa kondisi fiskal Indonesia saat ini menunjukkan performa yang jauh lebih stabil dan sehat jika dibandingkan dengan negara-negara ekonomi besar dunia seperti Amerika Serikat, Jepang, hingga India.

Pernyataan ini disampaikan Airlangga saat menghadiri agenda 14th US-Indonesia Investment Summit 2026 yang berlangsung di Hotel St. Regis, Jakarta Selatan, pada Selasa (6/10/2026). Menurutnya, keunggulan Indonesia terletak pada kemampuan pemerintah dalam menerapkan kebijakan fiskal yang lebih konservatif dan terukur, sehingga mampu menjaga keseimbangan ekonomi di tengah dinamika global yang tidak menentu.

Ekonomi Indonesia Lebih Tangguh dari AS dan Jepang
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Salah satu indikator utama yang ia paparkan adalah angka defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Indonesia tercatat memiliki defisit yang sangat terkendali di angka -2,3%. Angka ini jauh lebih kecil dan lebih aman jika disandingkan dengan Amerika Serikat yang mencatatkan defisit sebesar 5,8%, India dengan 4,4%, serta Jepang yang mengalami defisit sangat dalam hingga mencapai -60%.

COLLABMEDIANET

"Jika kita melakukan perbandingan terhadap pertumbuhan investasi antarnegara, Indonesia terbukti mampu menunjukkan pengendalian fiskal yang jauh lebih konservatif," tegas Airlangga di hadapan para investor dan delegasi mancanegara.

Tidak hanya soal defisit anggaran, Airlangga juga menyoroti aspek beban utang negara sebagai bukti nyata kesehatan ekonomi Indonesia. Rasio utang Indonesia saat ini berada di level 41%, sebuah angka yang sangat moderat. Hal ini sangat kontras dengan kondisi negara-negara maju dan tetangga lainnya. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat memiliki rasio utang yang mencapai 123,3%, India sebesar 83,1%, sementara Singapura mencatatkan angka yang sangat tinggi yakni 171,3%.

Kondisi ini, lanjut Airlangga, menjadi bukti bahwa kebijakan makroprudensial yang dijalankan pemerintah Indonesia berjalan di jalur yang tepat. Dengan menjaga rasio utang tetap rendah, Indonesia memiliki ruang gerak yang lebih luas untuk melakukan pembangunan tanpa harus terbebani oleh risiko gagal bayar atau krisis utang yang membayangi negara lain.

Menatap masa depan, pemerintah Indonesia telah menetapkan target ambisius untuk tahun mendatang dengan membidik pertumbuhan ekonomi di angka 6%. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah tidak akan tinggal diam. Strategi utama yang akan diambil adalah memperkuat sektor-sektor ekonomi yang memiliki nilai tambah tinggi serta melakukan revitalisasi pada industri-industri strategis agar lebih tangguh menghadapi persaingan global.

Airlangga juga menekankan pentingnya modernisasi ekonomi melalui digitalisasi, pengembangan industri semikonduktor, serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) guna memperluas kapasitas ekspor dan menarik lebih banyak investasi asing.

Dalam menjalankan strategi ini, pemerintah akan menggunakan pendekatan dua arah. Kebijakan fiskal akan diposisikan sebagai katalisator atau pendorong pertumbuhan, sementara kebijakan moneter akan bertugas sebagai penjaga stabilitas keuangan. Sinergi ini diharapkan mampu menjadi penyangga kuat terhadap berbagai ketidakpastian global, termasuk fluktuasi harga komoditas energi seperti minyak dan gas yang sering kali memicu volatilitas pasar.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar