Era Baru Serbia Setelah Jatuhnya Sang Penguasa

Moch Divan

Era Baru Serbia Setelah Jatuhnya Sang Penguasa

lintaswarta.co.id – Gelombang perubahan besar tengah menyapu daratan Serbia. Setelah bertahun-tahun berada di bawah kendali dominan Aleksandar Vucic, peta politik negara di kawasan Balkan Barat ini resmi berubah total. Gerakan mahasiswa yang selama dua tahun terakhir konsisten melakukan aksi protes damai, akhirnya berhasil memenangkan pemilu pada Minggu (25/10/2026).

Kemenangan ini disambut dengan euforia luar biasa. Puluhan ribu warga tumpah ruah ke jalanan, merayakan runtuhnya dominasi partai penguasa dengan kembang api, nyanyian, dan tarian. Namun, di balik kemeriahan tersebut, terselip kecemasan besar mengenai masa depan. Pertanyaan krusial kini bergulir: setelah berhasil menumbangkan penguasa, apa langkah selanjutnya bagi para mahasiswa yang kini memegang kendali?

Era Baru Serbia Setelah Jatuhnya Sang Penguasa
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Tantangan terbesar yang dihadapi adalah transisi dari gerakan jalanan menjadi pengelola pemerintahan. Kelompok mahasiswa ini tidak memiliki struktur kepemimpinan tunggal yang konvensional. Mereka membawa daftar 250 kandidat dengan latar belakang yang sangat beragam, mulai dari akademisi, dokter, pengacara, hingga musisi dan petani. Meski memiliki dukungan massa yang masif, mereka belum memiliki pengalaman dalam mengelola birokrasi negara yang kompleks.

COLLABMEDIANET

Laporan dari Teneo Global Research menyoroti bahwa meskipun kemenangan ini membuka peluang emas bagi pemberantasan korupsi dan penegakan hukum, proses transisi diprediksi akan berjalan terjal. Perlawanan dari birokrasi lama yang sudah mengakar serta keterbatasan pengalaman manajerial dapat menjadi batu sandungan bagi pemerintahan baru.

Gerakan ini sendiri lahir dari kemarahan publik atas tragedi runtuhnya kanopi stasiun kereta api di Novi Sad pada tahun 2024 yang menelan 16 korban jiwa. Tragedi tersebut menjadi pemantik tuntutan akan transparansi dan penghentian praktik korupsi yang dianggap telah merusak sistem negara.

Dalam hal kebijakan, gerakan ini membawa agenda yang cukup berani. Salah satunya adalah rencana menggelar referendum terkait keanggotaan Serbia di Uni Eropa (UE). Di sisi lain, mereka tetap memegang teguh prinsip tidak mengakui kemerdekaan Kosovo. Dalam kancah internasional, Serbia kini berada di persimpangan jalan yang sensitif. Meskipun mereka berencana memperbaiki hubungan dengan Uni Eropa, mereka juga menegaskan akan tetap menjaga hubungan baik dengan Rusia sebagai mitra historis dan pemasok gas alam utama.

Secara konstitusional, para pemenang memiliki waktu 90 hari untuk membentuk kabinet. Tugas mereka sangat berat, yakni melakukan "detoksifikasi" terhadap lembaga negara seperti kepolisian, badan intelijen, dan sistem peradilan yang telah dikuasai rezim lama selama 14 tahun. Selain itu, mereka harus segera mengesahkan anggaran negara di tengah meningkatnya beban utang publik.

Kini, mata dunia tertuju pada Serbia. Apakah koalisi mahasiswa yang heterogen ini mampu tetap solid untuk membongkar sistem yang korup, ataukah mereka akan terpecah oleh kepentingan politik di tengah jalan? Jawaban atas pertanyaan inilah yang akan menentukan stabilitas Serbia di masa depan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar