Estonia Siaga Serang Rusia

Harimurti

Estonia Siaga Serang Rusia

lintaswarta.co.id – Ketegangan geopolitik di kawasan Eropa Timur semakin memanas menyusul laporan terbaru mengenai langkah militer agresif yang tengah disiapkan oleh Estonia. Negara anggota NATO tersebut dilaporkan tengah memperkuat pertahanan perbatasannya dengan mempersiapkan persenjataan canggih yang memiliki jangkauan serangan hingga ke kota St. Petersburg, Rusia. Langkah ini memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas antara blok Barat dan Moskow.

Berdasarkan laporan yang dihimpun dari berbagai sumber internasional, Estonia tidak hanya sekadar memperkuat barisan pertahanan, tetapi juga mulai mengakuisisi sistem rudal taktis jarak jauh. Senjata-senjata maut yang menjadi sorotan meliputi peluncur HIMARS buatan Amerika Serikat serta sistem Chunmoo dari Korea Selatan. Kedua sistem persenjataan ini dikenal memiliki kemampuan untuk menembakkan proyektil dengan akurasi tinggi dan jangkauan yang mampu menjangkau salah satu kota terbesar kedua di Rusia tersebut.

Estonia Siaga Serang Rusia
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Selain pengadaan senjata baru, Estonia juga dilaporkan tengah meningkatkan intensitas latihan militer. Salah satu yang menjadi perhatian adalah latihan "Spring Storm" yang melibatkan kerja sama dengan Inggris. Dalam latihan tersebut, penggunaan teknologi drone jet kamikaze jenis Nyan menjadi fokus utama. Drone ini memiliki kemampuan terbang yang sangat jauh, yang secara teknis memungkinkan serangan hingga ke wilayah Rusia dari posisi Estonia.

COLLABMEDIANET

Meskipun saat ini Estonia hanya memiliki pasukan reguler sekitar 4.200 personel, pemerintah setempat telah menyiapkan rencana darurat dengan memobilisasi puluhan ribu tentara cadangan jika situasi keamanan memburuk. Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya ancaman dari arah perbatasan.

Situasi ini semakin pelik setelah Menteri Pertahanan Estonia, Martin Herem, memberikan pernyataan kontroversial dalam sebuah kuliah umum. Herem sempat melontarkan seloroh mengenai efisiensi ekonomi dalam mobilisasi militer, yang kemudian ditafsirkan oleh pihak Rusia sebagai bentuk retorika agresif. Diplomat Rusia segera menanggapi hal tersebut dengan memperingatkan NATO agar tidak melakukan serangan atau blokade terhadap eksklave Kaliningrad, dengan ancaman akan membalas menggunakan segala jenis persenjataan yang dimiliki Moskow.

Menanggapi ketegangan ini, Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan komentar sinis terhadap dinamika politik di Eropa. Ia menyebut situasi saat ini sebagai sebuah "sirkus" dan menegaskan bahwa Moskow tidak memiliki niat untuk menyerang Estonia maupun anggota NATO lainnya.

Di sisi lain, tekanan bagi negara-negara Eropa untuk memperkuat militer mereka terus meningkat. Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, sempat menyatakan bahwa negara-negara Eropa seharusnya memiliki kemandirian militer yang cukup kuat untuk menangani ancaman global tanpa harus selalu bergantung pada Amerika Serikat.

Kondisi ini mendorong negara-negara Baltik lainnya, seperti Latvia dan Lituania, untuk turut meningkatkan anggaran pertahanan mereka secara signifikan. Mereka bahkan telah mengajukan permohonan dana tambahan sebesar 500 juta Euro kepada Uni Eropa sebagai langkah antisipasi jika Rusia memutuskan untuk melakukan tindakan yang dapat menguji kekuatan NATO di masa mendatang.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar