Lintaswarta.co.id melaporkan bahwa ambisi besar Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) untuk kembali mendaratkan astronaut di Bulan pada tahun 2027, melalui misi Artemis III, secara resmi harus ditunda. Keputusan ini memupus harapan untuk melihat manusia kembali menginjakkan kaki di satelit Bumi tersebut dalam waktu dekat.
Rencana awal NASA adalah mengulang kembali momen bersejarah pendaratan manusia di Bulan, yang terakhir kali terjadi pada tahun 1972, atau 55 tahun silam. Namun, lembaga antariksa AS tersebut mengumumkan penundaan ini, dengan alasan membutuhkan waktu lebih banyak untuk mempersiapkan rencana ambisius tersebut secara matang.
Mengutip Digital Trends pada Selasa (3/3/2026), misi Artemis III kini akan dialihfungsikan sebagai fase pengujian krusial untuk sistem dan kemampuan operasional di orbit Bumi rendah. Ini merupakan langkah persiapan fundamental menuju misi pendaratan berawak Artemis IV yang dijadwalkan pada tahun 2028.

Related Post
NASA menjelaskan bahwa misi Artemis III yang baru akan mencakup serangkaian aktivitas kompleks. Ini meliputi pertemuan dan penyambungan (docking) satu atau kedua wahana komersial milik SpaceX dan Blue Origin. Selain itu, akan dilakukan pengujian ekstensif pada wahana yang terhubung di luar angkasa, pemeriksaan terpadu sistem pendukung kehidupan, komunikasi, propulsi, serta pengujian pakaian Extravehicular (xEVA) yang vital bagi astronaut.
Sementara itu, misi Artemis IV yang lebih ambisius akan melibatkan pengiriman dua astronaut dari pesawat Orion milik NASA ke wahana pendaratan SpaceX di orbit Bulan, sebelum akhirnya mereka turun ke permukaan satelit alami Bumi tersebut.
Meskipun menghadapi penundaan, impian NASA untuk menjelajahi Bulan tidak sepenuhnya padam. Lembaga tersebut berencana untuk meningkatkan frekuensi misi, dengan target melakukan setidaknya satu kali pendaratan per tahun setelah tahun 2027.
Seorang pimpinan di NASA, Jared Isaacman, menyoroti ancaman persaingan dari Tiongkok yang juga memiliki ambisi kuat untuk mengirimkan manusia ke Bulan. Ia menegaskan perlunya percepatan dalam setiap langkah. "Dengan meningkatnya persaingan yang kredibel dari musuh geopolitik terbesar setiap hari, kita perlu bergerak lebih cepat, menghilangkan penundaan, dan mencapai tujuan kita," tegas Isaacman.









Tinggalkan komentar