Lintaswarta.co.id, Jakarta – Ketegangan kembali membara di perbatasan Suriah-Israel setelah dilaporkan adanya konvoi militer Israel yang menerobos masuk ke wilayah Suriah. Insiden ini memicu keresahan di kalangan warga setempat dan meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.
Pada Minggu (16/11/2025), lima kendaraan militer Israel dilaporkan memasuki sebuah desa di wilayah pedesaan Quneitra, Suriah. Kantor berita resmi Suriah, SANA, melaporkan bahwa konvoi tersebut memasuki kota Saida al-Golan pada dini hari sebelum akhirnya mundur kembali ke arah perbatasan. Selain itu, pasukan Israel juga disebut melakukan penggerebekan di pinggiran desa Ma’riya, yang berada di sebelah barat provinsi Daraa.
Lintaswarta.co.id melaporkan bahwa serangkaian infiltrasi ini telah menimbulkan keresahan di daerah perbatasan. Warga lokal mengeluhkan makin seringnya pasukan Israel bergerak masuk ke lahan pertanian mereka, disertai laporan penghancuran ratusan hektare hutan, penangkapan penduduk, serta pendirian pos pemeriksaan militer baru oleh Israel.

Related Post
Pelanggaran berulang ini terjadi di tengah catatan agresi lintas batas yang meningkat tajam. Data pemerintah Suriah menunjukkan bahwa sejak Desember 2024, militer Israel telah melakukan lebih dari 1.000 serangan udara dan lebih dari 400 serangan lintas batas ke provinsi-provinsi selatan negara tersebut.
Situasi makin kompleks setelah kejatuhan rezim Bashar al-Assad pada akhir 2024, yang membuka ruang bagi Israel untuk memperluas kontrolnya di Dataran Tinggi Golan. Israel disebut menduduki zona penyangga demiliterisasi, wilayah yang seharusnya netral berdasarkan Perjanjian Pemisahan Pasukan tahun 1974 antara kedua negara. Langkah itu dinilai sebagai bentuk pelanggaran langsung terhadap kesepakatan yang telah lama menjadi acuan stabilitas di area sensitif tersebut.
Hingga saat ini, baik Israel maupun pihak internasional belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden infiltrasi terbaru ini. Namun, meningkatnya frekuensi operasi militer Israel di kawasan menunjukkan eskalasi yang terus berjalan, memicu kekhawatiran akan potensi konflik yang lebih besar di wilayah tersebut.









Tinggalkan komentar