Lintaswarta.co.id – Gaya hidup kuliner masyarakat Indonesia, yang akrab dengan aneka jajanan dan hidangan olahan bersuhu tinggi, kini menjadi sorotan tajam dalam peta kesehatan nasional. Tanpa disadari, menu-menu yang setiap hari tersaji di meja makan atau dijajakan di pinggir jalan, berpotensi menjadi "pupuk" subur bagi pertumbuhan sel kanker. Ancaman ini berasal dari senyawa akrilamida, sebuah karsinogen potensial yang terbentuk ketika makanan digoreng, dibakar, atau dipanggang pada suhu ekstrem di atas 120 derajat Celsius.
Ironisnya, banyak warga RI belum sepenuhnya menyadari bahaya tersembunyi di balik proses masak ini, sehingga rutin terpapar zat kimia tersebut. Akumulasi akrilamida dalam jangka panjang dapat merusak struktur sel tubuh dan memicu keganasan yang sulit terdeteksi sejak dini.
Merujuk laporan dari Times of India pada Minggu (15/2/2026), berikut adalah lima jenis makanan yang paling sering kita konsumsi dan berpotensi tinggi membentuk akrilamida, pemicu kanker:

Related Post
-
Gorengan Siapa yang bisa menolak renyahnya keripik kentang atau gurihnya kentang goreng? Sayangnya, camilan favorit ini menduduki peringkat teratas sebagai penyumbang akrilamida. Senyawa berbahaya ini muncul akibat reaksi antara gula alami dalam kentang dan asam amino saat digoreng pada suhu tinggi. Semakin lama proses penggorengan dan semakin gelap warna hasil akhirnya, semakin tinggi pula kandungan akrilamidanya. Studi keamanan pangan mencatat, kadar akrilamida pada keripik kentang bisa mencapai 300 hingga lebih dari 2000 µg/kg, sementara kentang goreng berkisar 200-700 µg/kg. Sebagai alternatif yang lebih aman, pertimbangkan merebus atau menggunakan metode penggorengan udara (air frying).
-
Biskuit dan Kue Kering Kemasan Teman setia saat minum teh atau pengganjal lapar ini juga tak luput dari risiko. Proses pemanggangan pada suhu tinggi yang umum digunakan dalam produksi biskuit dan kue kering kemasan tidak hanya menghasilkan akrilamida, tetapi seringkali juga dibarengi dengan tambahan pengawet dan gula rafinasi. Riset menunjukkan kadar akrilamida pada biskuit dapat bervariasi antara 160 hingga 1000 µg/kg, tergantung pada bahan dan metode pemanggangan. Untuk pilihan yang lebih sehat, disarankan memilih biskuit yang dipanggang sebentar atau membuat sendiri dengan bahan dasar tepung gandum utuh dan mengurangi kadar gula.
-
Roti Panggang dan Roti Kecokelatan Aroma khas roti panggang di pagi hari memang menggoda, namun perhatikan warnanya. Semakin gelap atau gosong warna roti panggang Anda, semakin tinggi pula potensi kandungan akrilamidanya. Warna cokelat tua tersebut adalah indikator proses pemasakan pada suhu tinggi yang memicu pembentukan zat karsinogenik ini. Memanggang roti hingga berwarna keemasan terang dapat secara signifikan mengurangi risikonya. Kadar akrilamida pada roti panggang dapat berkisar 50-500 µg/kg, dengan yang lebih gelap memiliki konsentrasi lebih tinggi. Pilihlah roti gandum utuh atau multigrain yang dipanggang dengan lembut sebagai alternatif yang lebih sehat.
-
Kopi Minuman favorit jutaan orang ini juga tidak bebas dari akrilamida. Senyawa ini terbentuk selama proses pemanggangan biji kopi, terutama pada fase awal. Kopi dengan tingkat sangrai ringan hingga sedang umumnya mengandung akrilamida lebih rendah dibandingkan kopi sangrai gelap. Data menunjukkan, secangkir kopi seduh dapat mengandung 5-20 µg/L akrilamida, sementara kopi instan dalam bentuk bubuk bisa mencapai 100-400 µg/kg. Bagi penikmat kopi, memilih biji kopi dengan tingkat sangrai yang lebih terang bisa menjadi langkah bijak.
-
Sereal Sarapan Kemasan Praktis dan cepat saji, sereal sarapan seperti corn flakes atau wheat crisp sering menjadi pilihan utama. Namun, proses pemanggangan atau penyangraian pada suhu tinggi yang diterapkan pada produk ini, terutama yang kaya gula dan berwarna kecokelatan, turut memicu pembentukan akrilamida. Studi menunjukkan kadar akrilamida dalam sereal kemasan dapat berkisar antara 150 hingga 1200 µg/kg, tergantung merek dan metode pengolahan. Untuk sarapan yang lebih sehat dan aman, pertimbangkan opsi biji-bijian yang dimasak secara tradisional seperti oat, poha, atau daliya.
Kesadaran akan bahaya akrilamida dan pemilihan metode masak yang tepat menjadi kunci untuk menjaga kesehatan di tengah gempuran makanan olahan.
(fab/fab)









Tinggalkan komentar