Kalteng Tercekik Asap Penerbangan Pun Batal

Harimurti

Kalteng Tercekik Asap Penerbangan Pun Batal

lintaswarta.co.id mengabarkan, Kalimantan Tengah kembali dihadapkan pada krisis kabut asap yang semakin memprihatinkan. Data terbaru menunjukkan bahwa Kota Palangka Raya telah mencatat ratusan insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan, sementara dampak asap tebal juga melumpuhkan aktivitas penerbangan di wilayah lain, khususnya di Kabupaten Barito Utara.

Heri Fauzi, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, mengungkapkan bahwa sejak 1 Juni hingga 19 Agustus 2026, tercatat 298 kasus karhutla yang telah melahap lahan seluas sekitar 261,41 hektare. Angka ini menandai peningkatan signifikan, dengan Kecamatan Jekan Raya menjadi wilayah paling terdampak, mencatat 188 kejadian, disusul Kecamatan Sebangau dengan 68 kasus. Kecamatan Pahandut dan Bukit Batu juga tidak luput dari bencana ini, masing-masing dengan 25 dan 8 insiden, sementara Kecamatan Rakumpit masih nihil kejadian.

Kalteng Tercekik Asap Penerbangan Pun Batal
Sumber Istimewa : akcdn.detik.net.id

Melihat kondisi ini, Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satria Budi, menyerukan partisipasi aktif masyarakat. Ia menegaskan pentingnya menghindari pembakaran lahan untuk tujuan apapun, tidak membuang puntung rokok sembarangan di area kering, serta segera melaporkan setiap penampakan titik api atau kepulan asap. Menurutnya, upaya pengendalian karhutla akan sia-sia tanpa kesadaran dan kerja sama dari seluruh elemen masyarakat.

COLLABMEDIANET

Sementara itu, dampak kabut asap juga dirasakan parah di sektor transportasi udara. Penerbangan dari dan menuju Bandara Haji Muhammad Sidik Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, telah dibatalkan selama dua hari berturut-turut. Muhammad Amrillah K, Kepala Bandara, menjelaskan bahwa maskapai Wings Air dengan rute Banjarmasin-Muara Teweh terpaksa menunda jadwalnya. Pembatalan ini disebabkan oleh jarak pandang (visibility) yang hanya mencapai 1000 meter pada pagi hingga siang hari, jauh di bawah standar keamanan penerbangan visual yang membutuhkan minimal 5000 meter.

Amrillah menambahkan, sebagian penumpang yang terdampak memilih untuk membatalkan penerbangan dan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat, sebuah opsi yang memakan waktu antara 9 hingga 13 jam. Meskipun jadwal penerbangan tetap tersedia setiap hari, operasionalnya sangat bergantung pada kondisi cuaca dan jarak pandang. Pihak bandara berharap kondisi atmosfer segera membaik agar aktivitas penerbangan dapat kembali normal.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar