Kiamat Minyak Mengancam! Kisah Raja Bayi Penguasa Hormuz

Harimurti

Kiamat Minyak Mengancam! Kisah Raja Bayi Penguasa Hormuz

Lintaswarta.co.id melaporkan, ketegangan geopolitik kembali menyelimuti dunia menyusul laporan serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (1/3/2026) waktu setempat. Potensi eskalasi konflik ini berpotensi besar mengganggu stabilitas pasokan energi global, mengingat Iran memiliki "senjata ekonomi" berupa cadangan minyak melimpah, ditambah kendali strategis atas Selat Hormuz, jalur distribusi vital dunia.

Selat Hormuz, sebuah jalur maritim yang sempit namun krusial, membentang selebar sekitar 33 kilometer. Fungsinya tak lain sebagai arteri utama yang menghubungkan Teluk Persia yang kaya minyak dengan pasar global. Setiap harinya, jutaan barel minyak mentah melintasi perairan ini, menjadikannya urat nadi perdagangan energi dunia. Bahkan gangguan sekecil apa pun di perairan ini dapat memicu turbulensi harga energi global yang signifikan.

Kiamat Minyak Mengancam! Kisah Raja Bayi Penguasa Hormuz
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Secara geografis, kendali atas Selat Hormuz terbagi. Bagian utara sepenuhnya berada di bawah pengaruh Iran, sementara sisi selatan berbatasan langsung dengan Oman dan Uni Emirat Arab. Jika jalur strategis ini benar-benar ditutup, dampaknya akan terasa luas, tidak hanya bagi negara-negara produsen minyak, tetapi juga bagi konsumen energi di seluruh penjuru dunia.

COLLABMEDIANET

Namun, jauh sebelum menjadi episentrum ketegangan geopolitik kontemporer, Selat Hormuz pernah berada dalam genggaman seorang raja legendaris: Shapur II dari Kekaisaran Sasaniyah. Wilayah kekaisaran kuno ini kini menjadi bagian integral dari Iran modern.

Shapur II naik takhta pada tahun 309 Masehi, dan ia tercatat sebagai salah satu monarki termuda dalam sejarah dunia. Beberapa catatan bahkan menyebutkan bahwa ia dinobatkan sebagai raja tak lama setelah kelahirannya. Di bawah kepemimpinannya, Kekaisaran Sasaniyah berkembang menjadi kekuatan dominan di kawasan Arab dan Asia Barat. Menurut catatan sejarah, termasuk yang diulas dalam buku Irānshahr and the Downfall of the Sassanid Dynasty (2023), Shapur II berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga mencakup Mesopotamia, Armenia, dan seluruh pesisir Teluk Persia melalui strategi militer dan diplomasi yang matang.

Salah satu warisan pentingnya adalah penamaan Selat Hormuz. Selat yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman itu dinamai dari ibunya, Ifra Hormizd, sebagai bentuk penghormatan. Ekspansi wilayah yang dilakukan Shapur II juga berdampak langsung pada penguatan ekonomi kekaisaran. Melalui penaklukan, ia menerapkan kebijakan relokasi penduduk, memanfaatkan mereka sebagai tenaga kerja di sektor pertambangan dan proyek infrastruktur, yang menjadi salah satu sumber kekayaan negara.

Selain itu, penguasaan atas Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman memberinya kendali penuh atas pelabuhan-pelabuhan strategis. Dari sana, ia menerapkan sistem bea cukai yang ketat terhadap komoditas ekspor-impor seperti sutra, karpet, logam mulia, dan rempah-rempah. Kekaisaran Sasaniyah juga menguasai sebagian dari Jalur Sutra, rute perdagangan penting yang menghubungkan Asia Barat hingga Tiongkok.

Dengan fondasi ekonomi yang kokoh dan sistem feodal yang terpusat pada figur raja, Shapur II dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh sekaligus terkaya di dunia Arab kuno. Ia wafat pada tahun 379 Masehi setelah memerintah selama sekitar 70 tahun, menjadikannya salah satu raja dengan masa pemerintahan terpanjang dalam sejarah Timur Tengah. Kekaisaran Sasaniyah kemudian runtuh pada 651 Masehi dan digantikan oleh kekuatan Islam yang kelak membentuk fondasi sejarah Iran modern, mewariskan Selat Hormuz sebagai jalur yang tak pernah kehilangan nilai strategisnya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar